Bagaimana Jika Tiba-tiba Ahok Masuk Islam?

ahok
Bagikaninfo.com

Renungkanlah, benarkah yang kita bela pada 04 November kemaren adalah Alqur’an dan Islam? Jika iya, apa buktinya? Lalu bagaimana jika tiba-tiba Ahok masuk Islam, masihkah kita membencinya? Bukti kebenaran kita dalam membela Alqur’an dan Islam adalah dengan merenungkan, bagaimana sikap kita jika tiba-tiba Ahok masuk Islam, masihkah kita membencinya?

Janganlah kefanatikan kita dalam membela Alqur’an dan Islam justru membuat orang non-muslim semakin jauh dari Alqur’an dan Islam itu sendiri. Masihkah kita mengharapkan ke-Islam-an para pembenci Alqur’an dan Islam? Bagaimana jika tiba-tiba Ahok masuk Islam, masihkah kita membencinya? Atau justru kita menjadi semakin benci karena sudah terlanjur membencinya? Lalu, siapa sebenarnya yang kita benci? Ahok, atau pemikirannya?

Jika Ahok yang kita benci, dimana ukhuwah basyariyah kita, bukankah dia juga manusia seperti kita, manusia yang oleh Allah diberi limpahan sifat Ar-Rahman-nya. Yang mana Nabi juga tetap melimpahkan kasih sayangnya kepada seorang kakek tunanetra pembenci dirinya dengan memberi makan dan menyuapinya setiap hari.

Jika pemikirannya yang kita perangi, memang itulah yang wajib. Dan berarti juga tidak menolak atau menutup pintu harapan untuk terus berharap masuk Islamnya dia. Dengan begitu yang kita perangi benar-benar pemikirannya, bukan orangnya. Dan kita akan merasa bersyukur jika tiba-tiba Ahok masuk Islam, dan akan terus berfikir dan belajar untuk memerangi pemikirannya jika dia tetap Kafir. Inilah yang dinamakan Nashihah(Nasehat).

Memang, orang Islam yang tidak marah ketika kitab sucinya dihina berarti Imannya masih kurang, sebab sudah jelas disebutkan dalam Alqur’an dan Hadits bahwa salah satu Rukun Iman adalah mengimani Kitab-kitab Allah.

Tapi cara seseorang dalam mengekspresikan kemarahannya tidak semuanya sama. Dan bagi kita sebagai orang awam yang masih minim ilmu agama, jangan sampai hanya karena perbedaan pendapat diantara para Ulama’ menjadikan kita membencinya. Kita sebagai umat yang tidak memiliki banyak ilmu seperti mereka cukuplah berbaik sangka saja kepada mereka.

Jangan jadikan perbedaan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan meuntup pintu kebaikan dipenjuru mana saja. (KH. Hasyim Asy’ary via nu.or.id)

Bahkan seandainya para Ulama’ dan Habaib dari golongan Ahlus Sunnah semua saling berbeda pandangan dan pendapat saya akan tetap mencintai mereka semua. Baik itu NU atau Muhammadiyyah. Baik itu KH. Hasyim Asy’ary atau KH. Ahmad Dachlan, baik itu Imam Maliki, Hanafy, Syafi’i, atau Hanbali, baik itu Kyai Sa’id, Gus Mus, Habib Rizieq, KH. Qurays Syihab, Aa Gym, Ust. Arifin Ilham, dll saya akan tetap mencintai mereka semua selagi masih di jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Seperti halnya saya tetap mencintai para Sahabat Nabi yang saling berselisih. Baik dari Ali bin Abi Thalib atau Mu’awiyah bin Abi Sofyan, atau dari pendukung keduanya, selagi masih di jalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah saya masih tetap mencintai mereka semua.

Leave a Comment