Cerita Islami yang Menyentuh Hati [Sebuah Pelajaran yang Sangat Berharga]

Cerita Islami yang menyentuh hati ini hanyalah sebuah CERPEN dari pengalaman seorang Santri yang sudah lama hidup di Pesantren.


Jika aku bisa memilih, aku tak ingin masa kecilku seperti yang ku alami dulu. Sebab di saat anak-anak seusiaku dimanja oleh orang tuanya, aku justru hidup terpisah dengan orang tuaku.

Di saat anak-anak seusiaku bisa bebas bermain setiap hari, aku hanya bisa bermain dalam waktu yang terbatas.

Di saat anak-anak seusiaku bisa menonton tv dan film kartun kesukaanya setiap saat, yang aku tonton setiap saat adalah sebuah buku-buku mungil bertuliskan arab.

Di saat anak-anak seusiaku pengen makan enak tinggal ngomong sama orangtuanya, aku hanya bisa mengkhayalkan makanan-makanan enak itu sambil menunggu waktu datangnya orangtuaku untuk mewujudkannya.

Ya, sejak kecil aku sudah hidup di Pesantren dan berpisah dengan orangtuaku untuk mendidik jiwaku yang sangat sulit untuk dikendalikan karena  selalu membelot dan berontak.

Cerita Islami yang Menyentuh Hati

aswajanucenterjatim.com

Penyakit yang Aneh – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Entah kelainan apa yang terjadi pada masa kecilku itu, semakin aku diatur semakin aku berontak. Semua nasehat yang ditujukan padaku tak ada yang mempan.

Aku tidak sekolah karena aku tidak mau disuruh sekolah, apa pun itu jika aku diatur dan disuruh aku tidak akan mau.Yang ku ingat saat itu aku hanya ingin hidup bebas merdeka tanpa ada yang mengatur.

Aku hanya hidup dalam duniaku sendiri, tak ada teman diwaktu pagi atau pun sore, karena anak-anak seusiaku di waktu pagi dan sore bersekolah.

Temanku pun tak banyak, hanya beberapa gelintir saja dari anak-anak satu gang denganku. Karena di lain gang aku sudah tak mengenalnya.

Sampai sutau saat Ayahku sowan ke KH.Aqib Umar, pengasuh Pondok Pesantren Bani Umar Kaliwungu, Kyai yang disepuhkan/dituakan di kota santri saat itu untuk mengadukan atau meminta solusi mengenai perihalku itu.

Hasil dari sowannya itu berkesimpulan supaya namaku diganti, beliaulah yang memberi nama ganti itu, dari Imam Bandanniji menjadi Muhammad Arifuddin.Beliau juga berpesan kepada ayahku agar membiarkan aku, kata beliau nanti kalo sudah saatnya akan baik sendiri.

Tak selang berapa lama kemudian namaku resmi diganti. Kini namaku telah resmi berubah menjadi Muhammad Arifuddin. Saat itu usiaku kira-kira tujuh tahun.

Baca Juga: Kehidupan Pondok Pesantren

Menempuh Hidup Baru – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Sejak saat penggantian nama itu seakan-akan kebebasanku telah hilang, aku harus menjalani kehidupan yang tak kuinginkan, mau tak mau aku harus menjalaninya. Entah paksaan itu datang dari orang lain atau diri sendiri.

Setelah itu aku dibawa ke Pesantren oleh keluargaku, Pesantren Rohmatullah Cokro Magelang.Pesantren pertama yang aku singgahi.Memang bukan keinginan sendiri untuk berada di Pesantren. Karena saat itu aku hanya dibilangi mau diajak rekreasi, setelah aku ikut, ternyata aku dibawa ke Pesantren dan ditinggal di sana.

Di Pesantren itu aku seperti dikarantina, semua gejolak pemberontakan dalam diriku benar-benar ditekan. Semua pergerakan dan aktivitasku dikekang dan diatur. Sampai lelah aku menjalaninya.

Di Pesantren Rohmatullah ini aku hanya bertahan satu tahun.

Baca Juga: Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi

Awal Kesadaran – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Setelah berada di Pesantren Rohmatullah Magelang satu tahun, aku kumat lagi saat liburan. Aku tak mau diantarkan lagi ke Pesantren. Aku benar-benar kapok dengan tekanannya.

Akhirnya aku kembali lagi seperti sedia kala. Saat itu aku merasa benar-benar dibiarkan saja oleh orang tuaku.Anehnya, setelah kira-kira satu tahun aku di Rumah, aku meminta sendiri untuk dipesantrenkan.

Kemudian aku dipesantrenkan di Ponpes Hidayatus Sibyan cabang dari Ponpes Miftahul Huda Pekalongan. Di sinilah awal kesadaranku muncul.Awal kesadaranku tak lepas dari berbagai pendidikan yang ada di pesantren ini. Sama seperti di Magelang dulu, pendidikan yang ada di Pesantren itu memang benar-benar mendidik jiwa.

Mengenai tarbiyah dan pendidikannya. Inilah sekilas tarbiyah yang diajarkan di Pesantren yang tak bisa kulupakan :

 Pendidikan Mental – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Saat datang di Pesatren Hidayatus Sibyan ini, aku tak membawa peralatan sekolah apa pun. Hanya berbekal satu stel seragam merah putih, satu pensil, satu buku tulis, dan sandal jepit.

Selama satu bulan lebih aku bersekolah hanya menggunakan satu seragam itu, kadang tanpa seragam kalo sedang kotor, juga tanpa sepatu, tanpa tas, satu buku dan pencil.

Berulang-ulang aku ditegur oleh guru BK (Bimbingan Konseling), tapi mau bagaimana lagi, adanya cuma itu. Selain guru BK tentunya aku juga malu dengan teman-temanku.

Sampai akhirnya ketika orang tuaku datang menjenguk, aku dibelikan seragam baru, tas baru, sepatu baru, dan buku baru, laksana kemarau satu tahun diguyur hujan satu hari, senang sekali.

Saat berangkat sekolah, timbul masalah baru, teman-temanku yang melihat aku tak sepeti biasanya langsung geger. Seperti artis saja, mereka sangat ramah menyambutku.

“Wiiih … sepatu baru, tas baru, seragam baru, kenalan dong.” betapa malunya aku, serasa terbang ke langit ditemani paus akrobatik.

Baca Juga: Benarkah Pola Hidup Sehat Ala Pesantren Bertentangan Dengan Dokter

Makan Seadanya – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Dalam hal makan sehari-hari Pesantren memang paling sederhana. Tak ada daging atau pun ikan. Kadang hanya tempe sama sambel, tumis kangkung dengan kerupuk,sambal terong, dll. Tak lebih dari dua macam.

Cara makannya menggunakan nampan/talam. Satu nampan untuk delapan orang.Yang paling lucu kalo nasinya udah hampir habis. Semua tangan langsung mengeluarkan jurusnya mengambil nasi untuk ditimbun di wilayahnya masing-masing.

Tapi tak pernah para santri itu mengeluhkan soal makanan yang sangat sederhana itu, justru mereka sangat lahap makannya, mengalahkan orang-orang yang makan dengan daging dan ikan.

Sampai aku pernah makan nasi putih dengan garam dan minyak jelantah sedikit, dan itu nikmat sekali. Ketika aku mencobanya di Rumah sudah tidak ada kenikmatannya sama sekali. Heran juga aku.

Rame-rame Berjuang Dengan Fasilitas Seadanya – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Kebanyakan fasilitas yang ada di Pesantren itu emang apa adanya banget. Kalau mau makan cepet ya harus antri dulu. Mau mandi atau nyuci juga harus antri, kalau gak mau antri ya gak usah mandi atau nyuci.Mau tidur juga harus rebutan cari tempat kalau gak mau tidur di emperan kamar.

Oleh sebab itu, anak yang biasa dimanja oleh orang tuanya di rumah kebanyakan tidak betah hidup di Pesantren.Tapi bagi yang betah akan mengalami banyak peningkatan.

Dengan fasilitas se-minim itu para santri tetap mampu memanfaatkannya dengan sangat baik.

Kegiatan yang Padat – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Untuk ukuran anak-anak usia SD/MI kegiatan di Pesantren itu sangat melelahkan. Mulai dari subuh sampai malam jam sembilan kegiatannya baru selesai.

Sampai suatu ketika, saat pembagian uang malam untuk jajan, aku berjalan sambil ngelindur menghafal do’a-do’a. Mungkin aku terlalu menjiwainya. Haha.

Baca Juga: Cerita Sekolah Minggu

Persidangan yang Menakutkan – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Waktu yang paling ditakuti adalah pagi hari setelah sholat dhuha berjamaah sebelum berangkat sekolah.Pada waktu itu persidangan dari semua pelanggaran digelar. Yang kurasakan benar-benar takut dan khawatir.

Entah aku melanggar atau tidak kekhawatiran itu tetap ada. Karena kadang aku juga dipanggil atas pelanggaran yang aku tak tau dan tak sengaja aku lakukan.

Aku bertanya-tanya, mungkinkah seperti itu yaumul hisab besok? Sepertinya tidak, bahkan mungkin lebih menakutkan lagi.

Berbuah Prestasi – Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Pendidikan seperti yang disebut di atas benar-benar terasa dalam hati kami, mampu menyadarkan atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.Mampu melunakkan hati yang keras. Mampu membuat luluh hati para pembangkang dan pemberontak.

Untuk ukuran seusia kami rasanya itu terlalu dewasa, atau terlau dini bisa menjadi sesadar itu.Kadang ada juga yang sampai menangis saat kegiatan-kegiatan seperti tahlilan atau membaca wirid.Aku yang dulu ketika pertama kali masuk sekolah tak tau apa-apa, kini ketika pembagian rapot selalu mendapat ranking.

Kini setelah aku dewasa, baru kurasakan. Ilmu yang ku peroleh dari situ benar-benar bermanfaat. Dan masih melekat kuat dalam ingatan sampai sekarang.

Aku merindukan saat-saat seperti itu, walau aku tak sebahagia anak-anak pada umumnya.

*Cerpen Santri

Add Comment