Benarkah Pola Hidup Sehat ala Pesantren Bertentangan dengan Dokter?

tropicanaslim.com
tropicanaslim.com

Benarkah Pola Hidup Sehat ala Pesantren Bertentangan dengan yang di Ajarkan oleh Para Dokter pada Umumnya? Inilah Penjelasannya.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang dokter yang membuka pratek di daerah Kaliwungu Kendal, Dr.Nur Rochim namanya. Saya bertanya kenapa pola hidup sehat ala Pesantren bertentangan dengan yang di ajarkan oleh para Dokter pada umumnya. Meskipun maksud dari keduanya sama baiknya.

Yang dari Dokter memiliki tujuan agar tubuh tetap sehat dan bugar, yang dari Pesantren mungkin agar tubuh lebih ringan dan mudah untuk beribadah, tidak malas, tidak mudah tidur, dan tidak menggelapkan hati.

Saya menanyakan hal-hal berikut:

1. Tidur

bersatulah.com
bersatulah.com

Masalah tidur, Pesantren mengajarkan untuk sedikit tidur, bahkan banyak dari Santri yang menganggap sedikit tidur itu suatu nilai plus bagi mereka. Tapi ilmu kedokteran modern justru menganjurkan untuk tidur delapan jam dalam sehari.

2. Makan

informasidiet.com
informasidiet.com

Masalah makan, Pesantren juga mengajarkan untuk tidak banyak-banyak makan, sebab bisa menjadikan Santri malas, gampang tidur, dan hati menjadi gelap. Tapi ilmu kedokteran justru menganjurkan untuk banyak makan agar tubuh tetap sehat dan bugar.

Terus saya ini, kalau makannya sedikit jadi lemes, tapi kalau saya banyakin jadi malesan, gampang tidur dan sulit untuk di bangunkan. Itu bagaimana Dok, saya itu pengennya makan sedikit tapi sehat, nggak kurus, dan juga nggak lemesan.

3. Minum

kompas.com
kompas.com

Masalah minum juga sama seperti makan, kalau minumnya banyak tubuh terasa berat, gampang ngantuk, dan kalau sudah tidur bangunnya sulit.

4. Lebih Baik Makan Daging atau Tidak?

selerasa.com
selerasa.com

Yang sering saya dengar makan daging, ikan, telur, keju, susu dan yang sebangsa protein itu sangat di anjurkan oleh para dokter. Tapi di Pesantren makanan-makanan seperti itu sangat jarang di jumpai, alasannya tirakat, agar tidak terbiasa enak-enakan. Jadi kalau besok hidup susah tidak kaget.

Jadi mana yang benar, kalau saya mengamalkan ilmu kedokteran, sebagai Santri saya merasa terlalu berlebihan dan bermewah-mewahan. Tapi jika saya mengamalkan hidup ala Pesantren, saya merasa kekurangan gizi.

Menurut saya ini adalah hal yang aneh. Seharusnya ada titik temu antara keduanya. Karena Imam Syafi’i ┬ápernah mengatakan: Ilmu itu ada dua, yaitu Ilmu Fiqh dan Ilmu Kedokteran.

Setelah saya bertanya demikian, Dokter itu menjawab:

Begini ya mas, doktrin yang mengatakan tidur delapan jam sehari, makan harus banyak, minum minimal delapan gelas setiap hari itu ilmunya orang barat.

Saya ini sehari makannya cuma dua kali, tapi saya sehat-sehat saja. Jadi kalau pagi saya itu cuma minum teh sama ngemil roti, habis itu beraktifitas seperti biasa kemudian ngajar dan buka praktek. Kemudian jam tiga sore itu baru saya istirahat dan makan.

Setelah itu saya melanjutkan kerja lagi, sampai jam segini ini saya belum makan lagi (saat itu jam 9 malam). Sampai nanti jam 11 pm saya ngajar lagi sampai jam 12 pm, baru saya makan lagi untuk yang ke dua, setelah itu istirahat kira-kira 30 menit sebelum beranjak tidur. Tapi AKG (Angka Kebutuhan Gizi) saya terpenuhi.

Jadi penjelasannya begini, ya saya maklumlah hidup di Pesantren itu seperti apa, karena saya dulu juga pernah di Pesantren. Di Pesantren itu kan makan sehari-harinya Oseng-oseng Kangkung, Sambel Terong, Tahu, Tempe, Kacang-kacangan, Bayam, Kol, dan rata-rata tidak lebih dari dua jenis lauk, iya kan?

Seperti itu kalau kebanyakan makan perut jadi begah, gampang tidur dan aktifitas menurun. Tapi kalau makannya sedikit, tubuh jadi lemes, loyo, dan tidak bertenaga. Semuanya serba salah.

Jadi itu bukan masalah sedikit atau banyaknya makan dan minum, tapi AKGnya terpenuhi gak, tidak masalah makan sedikit asal AKGnya terpenuhi. Sebaliknya kalau makan banyak tapi AKGnya tidak terpenuhi yang ada malah bikin perut begah.

Nah, solusinya nanti kalau sudah di Rumah perbaiki pola makannya. Yang terpenting gizinya, sering-sering makan buah seperti apel, buah naga, alpukat, anggur merah, dan brokoli( ini di sarankan untuk saya pada keadaan saat itu).

Begitulah kira-kira penjelasan dari Dokter Nur Rochim.

Dan untuk masalah standar tidur delapan jam per hari dan minum minimal delapan gelas per hari itu tidak semua dokter sepakat. Bahkan banyak argument dari buku-buku kesehatan yang mengatakan kalau pola makan empat sehat lima sempurna itu adalah pembohongan besar.

Dan saya memiliki pendapat tentang dua jenis orang yang makannya banyak dan sedikit tadi:

a. Orang yang Makannya Banyak Aktifitas Fisik juga Harus Banyak

maxmanroe.com
maxmanroe.com

Kalau orang yang makannya banyak, maka ia juga harus banyak gerak dan aktifitas, lebih-lebih yang menggunakan otot. Sebab kalau tidak yang terjadi tubuh akan mudah ngantuk, gampang tidur, dan tumbuh terasa malas.

Jika di pandang dari sisi lain, orang yang makannya banyak, berarti ia mensuplai karbohidrat, tenaga, dan konsentrasi banyak juga ke tubuh. Jika tenaga itu tidak di manfaatkan maka akan berdampak negativ dan menjadi beban bagi tubuh, akhirnya yang terjadi tubuh menjadi mudah ngantuk, mudah tidur, dan menumbuhkan rasa malas.

b. Orang yang Makannya Sedikit Aktifitas yang di Perbanyak adalah Aktifitas Hati

ummi-online.com
ummi-online.com

Sedangkan jika makannya sedikit, seperti yang sering di praktekan oleh para Santri, apalagi yang puasa naun atau Dalail. Maka aktifitas yang seharusnya banyak di lakukan adalah aktifitas hati yang cenderung berhubungan dengan Tuhan. Jadi banyak-banyakin ibadahnya, perbanyak amal Taqarrub.

Sebab jika makannya sedikit, dorongan-dorongan untuk melakukan Ibadah jadi sangat ringan untuk di lakukan. Hal ini dapat kita lihat ketika bulan Ramadhan, pada bulan puasa itu kita lebih mudah dan ringan untuk menjalankan berbagai aktifitas peribadatan.

Semoga bermanfaat.

Leave a Comment