Contoh Artikel Kehidupan Manusia Sebagai Makhluk Individu Maupun Sosial

Artikel Kehidupan Manusia – Jalan hidup-Sebuah alasan kenapa aku merubah jalan hidupku, karena aku sangat kesulitan menempuh jalan hidupku yang dulu.

Meskipun begitu tujuanku tetaplah sama, aku hanya berpindah jalan yang pas dan sesuai untuk ku lalui.

Kita tidak bisa menghukumi suatu proses atau jalan itu jelek sebelum mengetahui kemana arah dan tujuannya. Sebagaimana maqolah:إن للوسائل حكم المقاصد”, sesungguhnya suatu jalan(lantaran) itu hukumnya sesuai dengan tujuannya.

Mengenai jalan hidup sendiri sebenarnya tergantung orangnya masing-masing. Jika ia merasa mampu berjalan sendiri menuju tujuannya tanpa takut tersesat, maka mengendalikan jalan hidupnya sendiri itu lebih baik.

Tapi jika ia merasa belum mampu untuk mengendalikan jalan hidupnya sendiri, maka mengikuti jalan hidup seseorang yang sudah sampai pada tujuan hidupnya itu lebih baik.

Bahkan bisa dikatakan wajib. Contoh seperti ini terdapat pada seorang santri, dimana seorang santri dalam jalan hidupnya mengikuti Sang Kyai yang di anggap telah sampai pada tujuan hidupnya.

Tapi perlu di ingat juga, bahwa karakter dan keadaan seseorang itu berbeda. Seorang santri yang memiliki sifat dan karakter yang mirip dengan Kyainya akan lebih mudah dan cepat melalui jalan hidup yang dituntunkan Kyainya di banding santri yang memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengan kyainya.

Meskipun begitu pada intinya sama, seorang santri yang memiliki sifat dan karakter yang sama dengan kyainya atau tidak, sebab seorang kyai itu mendidik jiwa atau ruh seorang santri, yang mana jiwa atau ruh seseorang itu secara garis besar sama, yaitu Akhlak.

Contoh Artikel Kehidupan Manusia Dalam Memilih Jalan Hidup Sendiri

jalan-hidup

elizato.com

Dan keputusanku untuk memilih jalan hidup sendiri bukanlah tanpa pertimbangan, berpijak pada penggalan ayat:  “وكل يعمل على شاكلته”, dan setiap orang itu beramal menurut jalannya masing-masing.

Karena aku merasa kesulitan untuk menempuh jalan hidupku yang dulu, dan merasa ada sebagian yang tidak bisa ku ikuti dari penuntunku.

Karena jalan yang di tempuh oleh penuntunku adalah jalan pintas, sedangkan kapasitasku tidak mampu untuk mengikutinya.

Akhirnya, berbekal pada titik tujuan yang sama itulah aku memberanikan diri untuk menempuh sendiri jalan hidupku, walaupun sampai pada tujuannya nanti akan lebih lama.

Baca Juga: Belajar Psikologi Kepribadian

Biarlah Jalan Hidupku Kuteruskan Sendiri

Memang sudah sangat jauh sekali jalan hidupku dituntun oleh penuntunku, rasanya semua yang kumiliki tak bisa untuk membalas jasanya. Tapi aku juga merasa mungkin cukup sampai disini aku perlu di tuntun, biarlah sisanya kuteruskan sendiri.

Ada beberapa perbedaan pendapat dengan penuntunku mengapa aku memilih meneruskan sendiri jalan hidupku. Meskipun berbeda pendapat tapi itu tetap satu tujuan, hanya jalan atau lantarannya saja yang berbeda.

Berikut adalah beberapa alasan kenapa aku memilih melanjutkan sendiri jalan hidupku:

1. Jalan Hidup Amaliyah yang Berbeda

Aku bukanlah type orang pekerja berat atau yang menggunakan otot, melainkan lebih ke type orang yang bekerja menggunakan otak. Sehingga aku merasa tidak cocok dan kurang terpakai jika di tempatkan pada keadaan yang mayoritas menggunakan otot.

2. Jalan Hidup yang Tertib, Bukan Jalan pintas

Untuk mencapai tujuan hidup level lima, aku tidak mampu mencapainya dengan jalan pintas dari level satu, level tiga, dan kemudian level lima. Aku lebih cocok dan mampu  jika melaluinya secara tertib.

Itu adalah ibarat dari sebuah kelemahanku karena belum bisa mengikuti jalan hidup dari penuntunku, diantaranya sebagai berikut:

Baca Juga: 10 Manfaat Nikah Muda

a. Jalan Hidup Soal Jodoh

Aku belum mampu untuk melewati tangga level menyerahkan total jodohku terhadap penuntunku, aku lebih condong untuk memilih sendiri dan nantinya biarlah tuhan yang memutuskan.

Bersandar pada ayat: “فانكحوا ما طاب لكم من النساء”: Maka nikahilah wanita lain yang kamu senangi.

Aku yakin pada tuhan bahwa ia akan memberikan pada hambanya hanya yang terbaik bagi hambanya itu. Jadi cukuplah keyakinan itu untukku dalam final pilihanku.

Jika ia baik untukku tanpa aku berdo’a pun tuhan akan berikan padaku, dan jika ia buruk untukku, tanpa aku berdo’a juga tuhan akan melepaskan ia dariku.

b. Jalan Hidup Soal Rizki

Aku percaya bahwa pembagian rizki dari tuhan kepada makhluknya itu telah sampai tanpa ada yang tersisa sedikitpun walaupun tanpa sebuah perantara. Sebagaimana keterangan dari Al Ghozali, tapi yang aku garis bawahi adalah tingkat keadaan manusianya.

Sebagaimana diterangkan dalam Al Hikam bahwa tingkatan manusia itu ada dua, yaitu Tajrid dan Asbab. Sedangkan aku merasa bahwa aku berada dalam maqom asbab, maka aku mencari suatu sebab untuk mendatangkan rizkiku.

3. Jalan Hidup Rizki Sesuai Keterangan Al Ghozali

Menurut Al Ghozali, Rizki itu ada empat macam, yaitu:

a. Rizki yang Sudah di Jamin

Yaitu rizki yang berupa makanan dan segala sesuatu yang bersandar pada tubuh dan jiwa. Jenis rizki ini tidak terikat maupun terkait dengan lantaran atau sumber-sumber lainnya di dunia.

Jaminan rizki jenis ini datangnya langsung dari Allah, maka tawakkal terhadap rizki jenis ini wajib hukumnya berdasarkan dalil ‘aqli dan syar’i.

Allahberfirman: Tiada satupun yang bergerak di muka bumi ini melainkan di jamin rizkinya oleh Allah. (QS. Hud: 6)

b. Rizki yang di Bagikan

Yaitu rizki yang dibagikan oleh Allah sesuai dengan yang telah tertulis di lauh mahfudz secara rinci dan detail. Semua telah dibagikan sesuai kadar dan waktu yang telah di tentukan, tidak lebih dan tidak kurang, tidak maju dan juga tidak mundur dari waktu yang telah di tetapkan.

Sebagaimana sabda Nabi: Rizki itu telah dibagikan dan diberikan semuanya. Tidaklah ketaqwaan seseorang itu dapat menambahnya dan tidak pula kejahatan seseorang dapat menguranginya.

Adapun kadar setiap orang berbeda-beda, sebagaimana firman Allah: Tidaklah manusia itu mendapatkan apa-apa kecuali apa yang di usahakannya. (QS. An Najm: 39)

c. Rizki yang dimiliki

Yaitu harta benda dunia yang dimiliki manusia sesuai yang telah di takdirkan Allah untuk dimilikinya. Sebagaimana firman Allah: Belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian rizki yang telah kami berikan kepadamu. (QS.Al Baqoroh:254).

Dan sudah selayaknya rizki jenis ini untuk disyukuri, sebagaimana Allah berfirman: Sungguh jika kamu bersyukur, pasti aku tambah nikmat kepadamu, tapi jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azabku sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

d. Rizki yang di Janjikan

Yaitu segala yang telah dijanjikan Allah kepada hambanya yang bertaqwa dengan syarat ketaqwaan, sebagai rizki yang halal dan tanpa di dahului oleh sebuah usaha yang bersusah payah.

“Brang siapa bertaqwa kepada Allah pasti akan diadakan baginya jalan keluar dan diberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka”. (QS.At Tholaq: 2)

Dan apa yang telah di ajarkan penuntunku rasanya sesuai dengan keterangan Al Ghozali di atas, hanya saja aku yang kurang bisa untuk mengikutinya. Mungkin karena aku berada dalam makam asbab.

Baca Juga: Fakta Menarik Tentang Wanita


*Contoh artikel kehidupan manusia

Add Comment