Kehidupan Pondok Pesantren yang Tak Akan Terlupakan

Kehidupan pondok pesantren kerap di istilahkan dengan istilah penjara suci bagi mereka yang merasa hidupnya seperti di penjara karena hidup di Pesantren. Tak terkecuali aku, saat usiaku menginjak tujuh tahun aku dikirim ke Pesantren oleh orang tuaku.

Aku benar-benar seperti hidup di Penjara karena tak bisa kemana-mana, seluruh area Pesantren di kelilingi pagar setinggi empat meter. Keluar area Pesantren hanya bisa dilakukan saat hari Jum’at untuk melaksanakan sholat Jum’at.

Di sebut suci karena kegiatan yang ada di Pesantren dimaksudkan untuk mensucikan diri penghuninya. Semua pembangkangan, pemberontakan, dan pembelotan dalam diri ditekan habis-habisan. Itulah yang kurasakan dulu.

ashafa-nisa.blogspot.com

ashafa-nisa.blogspot.com

Awal Masuk Pesantren

Aku dikirim ke Pesantren oleh orang tuaku karena kenakalanku yang tidak wajar, setelah berbagai upaya dilakukan, jalan terakhir adalah mengirimku ke Pesantren.

Awalnya aku tidak tau kalau mau dibawa ke Pesantren, karena orang tuaku bilangnya mau mengajak rekreasi. Eh ternyata, ya itu sudah harus semestinya dilakukan untuk diriku.

Sesampainya di Pesantren tak henti-hentinya aku menangis, tapi aku tak sendirian dalam menangis, ternyata ada banyak anak menangis yang menenmaniku. Ya, mereka senasib denganku. Memang seperti inilah rata-rata kehidupan pondok pesantren untuk anak baru.

Baca Juga: Cerita Islami yang Menyentuh Hati

Cerita Anak Baru

Di kehidupan pondok pesantren anak baru selalu punya cerita. Sehari berlalu aku hidup di Pesantren, dunia terasa sangat asing bagiku. Aku merasa itu bukan alam kehidupanku. Sesekali kami sesama Santri baru saling bercerita tentang kesedihan yang sedang kami rasakan itu, lebay. Hingga akhirnya tumbuhlah sedikit demi sedikit rasa solidaritas kami.

Akhirnya kesedihan itu sedikit demi sedikit dapat terabaikan, kami sesama anak baru sering melakukan berbagai hal bersama-sama. Kadang sesekali ada di antara Santri baru yang tiba-tiba menangis karena ingat orangtuanya di Rumah. Hehe, lucu juga ya.

Adaptasi yang Lambat

Hari demi hari kulalui di Pesantren, tapi aku seperti belum bisa menerima kenyataan untuk hidup di situ. Aku masih belum bisa menyesuaikan diri, masih terasa asing dan berat bagiku kehidupan pondok pesantren ini. Dalam hati selalu berontak, tapi aku tak bisa apa-apa,tak ada yang bisa kulakukan selain menerima kenyataan yang ada.

Keadaan yang seperti itu hanya ada satu pilihan, mau tidak mau harus siap untuk menjalani kehidupan di Pesantren dengan berbagai kegiatan dan ketetapannya.

Baca Juga: Contoh Cerpen Pengalaman Pribadi

Suasana Bangun Tidur di Kehidupan Pondok Pesantren

Salah satu yang sangat sulit dalam menyesuaikan kegiatan disana adalah bangun tidur, bayangkan saja di daerah yang iklimnya sangat dingin, satu jam sebelum shubuh kami sudah di bangunkan untuk mandi. Dari kamar Santri-santri di giring menuju ke kamar mandi terbuka yang ada di ruang bawah tanah.

Banyak dari santri-santri yang sampai di kamar mandi hanya pindah tidur saja, mereka duduk bergerombolan di pojokan ruang untuk kembali tidur, mereka akan segera mandi jika pengurus sudah turun tangan menyemprotkan air ke segerombolan santri yang tidur di pojokan ruang itu.

Suasana Makan di Kehidupan Pondok Pesantren

Selain bangun tidur, yang paling sulit untuk menyesuaikan diri disana adalah makan. Lauk sehari-hari disana adalah tahu, tempe, dan sayur-sayuran. Tidak ada nafsu makan sama sekali di sana, sehingga bisa untuk tidak makan itu sesuatu yang menyenangkan.

Tapi sayangnya makan adalah sesuatu yang wajib di sana, semua santri harus makan dan harus menghabiskan jatah makannya, tidak boleh memberikan jatah makannya kepada santri lain. Jika ada yang ketahuan membuang makanannya atau memberikannya kepada orang lain akan dihukum.

Parahnya lagi, sangat sering terjadi pada sayurannya terdapat ulat, aku pernah bertabayyun pada pengurusnya yang bertugas jaga malah jawabnya enteng, katanya itu vitamin. Hehe, vitamin apaan? vitamin U!

Baca Juga: Benarkah Pola Hidup Sehat Ala Pesantren Bertentangan Dengan Dokter

Penyakit Khas di Kehidupan Pondok Pesantren

Ada ungkapan mengatakan, kalau santri belum pernah mengalami penyakit gatal-gatal, berarti ilmunya belum masuk. Gatal-gatal adalah penyakit khas santri, sepertinya semua orang yang pernah nyantri pernah mengalaminya.

Termasuk juga aku, kedua telapak tanganku tidak bisa mengepal, hanya bisa menadah seperti orang yang berdo’a. Tapi sepertinya ungkapan di atas memang benar, semakin parah penyakitnya semakin bertambah ilmunya, atau semakin bertambah ilmu seorang santri semakin pbertambah pula penyakitnya.

Itu tidak pasti benar sih, mungkin hanya mitos.

Kini setelah aku besar, aku tidak menganggap itu suatu hal yang salah. Aku merasakan dampak positif yang sangat besar. Itu adalah pengalaman yang tak terlupakan yang membuat perubahan besar dalam hidupku. Terimakasih telah mendidikku.

Baca Juga: Cerita Sekolah Minggu

Add Comment