Kumpulan Contoh Kultum Singkat Terbaik Sepanjang Masa

KULTUM – Sebelum menyampaikan Kultum Pendek atau kultum singkat, ada beberapa hal yang perlu disiapkan agar ceramah singkat yang disampaikan dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala.

Kultum Singkat atau ceramah singkat adalah media dakwah yang tidak membosankan, dengan waktu yang relatif singkat para pendengar tidak akan merasa bosan untuk mendengar materi kultum yang disampaikan.

Maka dari itu, seorang da’i harus pintar-pintar dalam menyampaikan materi kultum. Bagaimana dalam waktu yang singkat namun materi yang disampaikan bisa maksimal dan dapat membuat para pendengar faham dengan maksud yang disampaikan.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk menunjang kelancaran Kultum Singkat Anda:

Susunan Naskah Kultum Singkat

Kultum singkat
tongkronganislami.net

Siapkanlah materi kultum pendek yang akan disampaikan, pilih judul atau tema materi kultum pendek yang sekiranya sesuai dengan keadaan/situasi dan kondisi.

Naskah materi ceramah singkat Ramadhan yang telah dipersiapkan ini perlu dibentuk kerangkanya, baik yang ditulis atau dihafal, tujuannya untuk memudahkan dalam menyampaikan ceramah singkat Ramadhan ini.

Adapun susunan kerangka dalam menyampaikan pidato singkat adalah sebagai berikut:

1. Pembukaan

  • Salam Pembuka.
  • Khotbah Iftitah, yaitu meliputi bacaan Hamdalah, Sholawat dll.
  • Ucapan Penghormatan.
  • Ucapan Syukur dan Terimakasih.

2. Inti/Isi Materi

  • Isi dari pokok pembahasan.
  • Uraian rinci dari pokok pembahasan.
  • Kesimpulan.

3. Penutup

  • Harapan-harapan.
  • Permohonan maaf.
  • Salam penutup.

Dalil Kultum Singkat

Selain beberapa hal diatas, yang perlu diperhatikan lagi dalam menyampaikan kultum singkat atau ceramah agama adalah menguraikan dalil. Hal ini perlu dilakukan agar materi ceramah agama yang disampaikan kuat.

Dalam menjabarkan atau menguraikan dalil, ada beberapa teknik yang bisa dipraktekan:

  • Dalil dibacakan sampai selesai, setelah itu disusul dengan menterjemahkannya.
  • Dalil dibacakan kalimat demi kalimat dan diterjemahkan demi kalimat juga.
  • Dalil dibacakan lafadz demi lafadz dan diterjemahkan demi lafadz juga.
  • Tanpa membacakan Dalil, tetapi langsung membacakan terjemahnya saja (Tetap dengan menyebutkan sumbernya).

BACA:

Kultum Singkat Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah Bulan Diturunkannya Al Qur’an

Allah SWT berfirman:

Adalah bulan Ramadhan, bulan diturunkannya (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai petunjuk tersebut dan merupakan pembeda (antara yang haq dan yang bathil). Karena itu, barang siapa diantara kamu berada ditempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaknya berpuasa”. (Q.S Al Baqarah:185)

Uraian Dalil

  • Al-Qur’an Pertama diturunkan adalah pada tanggal 17 bulan Ramadhan.
  • Beberapa fungsi dari Al Quran.
  • Kewajiban berpuasa bagi yang tidak bepergian.

Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an, hal ini menunjukkan betapa utama dan mulianya bulan Ramadhan ini. Ramadhan Karim, tentu bukan tanpa alasan Allah menurunkan kitab suci Al Qur’an di bulan Ramadhan.

Sebab semua yang terjadi atas kehendak Allah, tidak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur dan dirancang dengan sangat rapi oleh Allah.

Diturunkannya Al Qur’an di bulan yang mulia ini, tentu Al Qur’an-nya juga mulia. Al Qur’an memiliki fungsi sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan dari petunjuk tersebut. Al Qur’an juga berfungsi sebagai pembeda anatara yang haq dan yang bathil.

Oleh sebab itu, orang-orang yang tidak dalam bepergian pada bulan Ramadhan ini diwajibkan berpuasa. Sedangkan orang-orang yang dalam keadaan bepergian (tertentu) diperbolehkan untuk tidak berpuasa.

Diwajibkan Berpuasa Bagi Orang yang Beriman

Allah SWT juga berfirman dalam surat yang sama, yaitu dalam surat Al Baqarah ayat 183:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, seperti halnya diwajibkan atas umat-umat sebelum kalian, agar kalian bertaqwa”. (Q.S Al Baqarah:183)

Uraian Dalil:

  • Orang-orang beriman diwajibkan berpuasa.
  • Tujuan menjalankan perintah puasa, yaitu agar bertaqwa.

Pada ayat tersebut menekankan orang-orang yang beriman untuk menjalankan puasa. Dalam pemahaman yang lain, jika kita ingin menjadi orang yang beriman, maka harus berpuasa.

Tujuan menjalankan perintah puasa ini agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Sebab dengan menjalankan puasa kita telah menjalankan perintahnya.

Sebagaimana pengertian taqwa sendiri yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Diampuni Dosa-dosanya Bagi yang Berpuasa Ramadhan

Nabi Shallallahu ‘aliaihi wasallam juga bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, karena iman dan mencari ridho Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhori)

Uraian Dalil:

  • Orang yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mencari Ridho Allah, maka dosa-dosa kecil yang telah lalu yang berhubungan dengan Allah akan diampuni.

Orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, karena Iman dan mencari Ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah.

Dosa-dosa yang akan diampuni ini adalah dosa-dosa kecil yang berhubungan dengan Allah. Sedangkan dosa besar dan dosa yang berhubungan dengan manusia tidak termasuk dalam kategori dosa yang diampuni dalam konteks diatas.

Sebab, ampunan untuk dosa besar diperlukan sebuah Taubatan Nashuha. Sedangkan dosa yang berhubungan dengan manusia hanya akan diampuni jika yang bersangkutan juga memaafkan.

Keistimewaan Bulan Ramadhan yang Sangat Dahsyat

Dalam hadits yang lain Nabi bersabda:

“Andaikan umatku mengetahhui keistimewaan yang ada di bulan Ramadhan, pastilah mereka berharap agar seluruh bulan dalam 1 tahun menjadi bulan Ramadhan semua”. (Al Hadits)

Uraian Dalil:

Diantara keistimewaan bulan Ramadhan adalah, amal-amal kebaikan pahalanya dilipat gandakan, ibadah di bulan Ramadhan akan diterima oleh Allah, do’a-do’a akan dikabulkan, dosa-dosa diampuni, serta dirindukan oleh surga bagi orang yang berpuasa di bulan ini. Hal ini menunjukkan betapa mulianya bulan Ramadhan ini.

Contoh Kultum Singkat Tentang Islam dan Iman

Mu’min Laki-laki dan Wanita yang Berbuat Baik akan Masuk Surga

Allah SWT berfirman:

“Barangsiapa yang berbuat baik, baik dari golongan laki-laki maupun wanita, dan dia termasuk orang mu’min, maka akan masuk surga dan dia tidak dianiaya sedikitpun (dari amal perbuatannya di dunia). (Q.S An Nisa:78)

Uraian Dalil:

  • Amal baik tidak diterima kecuali dari orang-orang mu’min.
  • Tidak ada perbedaan pahala dari amal baik mu’min laki-laki maupun mu’min wanita.

Iman adalah sesuatu yang bersifat mutlak. Tidak diterima amal baik kecuali dari orang-orang yang beriman. Orang yang beriman selalu menyandarkan setiap amalannya kepada Allah.

Sedangkan orang yang tidak beriman selalu menyandarkan amalnya kepada sesuatu yang bersifat duniawi, seperti menyandarkan amal baiknya kepada kenaikan pangkat, pujian, dll.

Pahala dari amal baik mu’min laki-laki dan mu’min wanita itu sama, tidak ada perbedaan diantara keduanya.

Beriman Kepada Allah dan Bermanfaat Bagi Sesama Muslim Adalah Segalanya

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Dua perkara yang tiada satupun yang dapat melebihi keutamaannya, yakni beriman kepada Allah SWT dan bermanfaat bagi sesama muslim”.

Uraian Dalil:

  • Iman kepada Allah (yang secara otomatis Iman kepada Rasulnya, Kitabnya dan Malaikatnya) adalah sesuatu yang tiada bandingannya.
  • Bermanfaat bagi sesama muslim adalah suatu keutamaan yang tiada bandingannya.

Iman adalah sesuatu yang sangat berharga, tidak ada suatu apapun yang dapat melebihi keutamaannya. Sebab, Iman adalah amaliyah hati yang tidak dapat dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga.

Selain Iman, bermanfaat bagi sesama muslim juga merupakan sesuatu yang tiada bandingannya. Hal ini bukan berarti bermanfaat bagi non muslim tidak ada gunanya, bermanfaat bagi non muslim tetap ada keutamaannya, namun bukan keutamaan yang tiada bandingannya.

Iman dan Taqwa Adalah Sesuatu yang Saling Melengkapi

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Iman adalah ibarat sesuatu yang telanjang, pakaiannya adalah taqwa, perhiasannya adalah sifat malu (tahu diri) dan buahnya adalah ilmu”.

Uraian Dalil:

Jika Iman adalah mempercayai bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa dan satu-satunya Tuhan yang menguasai jagad raya, mempercayai bahwa Nabi Muhammad adalah utusannya, mempercayai kitab-kitabnya, mempercayai adanya malaikat, mempercayai adanya hari akhir, serta mempercayai bahwa qodho dan qodar baik maupun buruk datangnya dari Allah.

Maka manifestasinya adalah Taqwa, yaitu dengan mengerjakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah.

Menolak segala sesuatu yang menafikan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Menerima kalamullah melalui kitab-kitabnya. Sadar bahwa malaikat memang ada. Sadar bahwa hari akhir pasti akan datang. Serta menerima atas segala sesuatu yang telah ditentukan dan diputuskan oleh Allah.

Contoh Kultum Singkat Tentang Menuntut Ilmu

Allah Mengangkat Derajat Orang-orang Beriman dan Berilmu

Allah SWT Berfriman:

“Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dari kamu sekalian dan orang-orang yang memilik ilmu, dan Allah maha mengetahui terhadap apa apa yang kamu kerjakan”. (Q.S Al Mujadalah:11)

Uraian Dalil:

  • Orang-orang mu’min dan orang-orang berilmu memiliki derajat yang tinggi disisi Allah.

Orang-orang mu’min memiliki derajat yang tinggi disisi Allah. Sebab dengan keimanan-nya ia telah mengalahkan ego pribadi serta nafsu syahwatnya demi mengikuti perintah Allah.

Orang mu’min hanya menyandarkan amalnya kepada Allah, ia merasa tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk berbuat taat dan kebaikan. Sedangkan ketika suatu kesalahan menimpa mereka, mereka merasa sedang memikul gunung atas kesalahannya itu yang seakan-akan siap menerkanya.

Berbeda dengan orang-orang kafir, mereka selalu menyandarkan amal perbuatannya kepada dirinya sendiri. Sehingga ketika mereka berbuat baik sangat mudah menyalahkan yang lain.

Kebaikan-kebaikan yang mereka perbuat hanyalah untuk kepentingan duniawinya dan untuk meraih jabatan/capaian tertentu, atau pujian dari sesama manusia. Maka, hanya itulah yang mereka dapat.

Dan orang-orang seperti ini tidaklah mendapat tempat disisi Allah. Meskipun kebaikan-kebaikan yang mereka perbuat sudah setinggi gunung dan seluas samudera.

Orang beriman tetap nomer satu disisi Allah. Mereka mendapatkan kedudukan serta derajat yang mulia disisi Allah, sebagai balasan yang setimpal dan atas rahmatnya.

Begitu juga orang-orang yang berilmu. Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Ilmu disini adalah Ilmu yang bermanfaat, yaitu Ilmu yang apabila kita mengetahuinya menjadikan kita selamat, dan apabila kita tidak mengetahuinya menjadikan kita celaka.

Ilmu seperti ini disebut juga dengan Ilmu haal, yaitu suatu ilmu yang dibutuhkan saat ini. Misalnya, bagi orang atheis ilmu haalnya adalah mencari kebenaran adanya Tuhan, bahwa Tuhan itu ada dan ESA.

Bagi Muallaf ilmu haalnya adalah beajar tauhid dan syariat seperti sholat, berwudhu, dll. Bagi seorang pedagang ilmu haalnya adalah mencari tahu hukum-hukum yang berkaitan dengan dagangannya, orang yang pergi haji ilmu haalnya adalah mempelajari tentang ilmu haji, dst.

Dengan ilmu jugalah Adam lebih dimuliakan daripada Malaikat. Dengan demikian, Iman dan Ilmu adalah sesuatu yang sangat berharga di dunia ini.

Mendatangi Majelis Ilmu Lebih Utama dari Sholat Sunnah 1000 Rakaat

Dalam Haditsnya Imam Abi Dzarr disebutkan:

“Mendatangi majelis nasehat yang baik adalah lebih utama daripada sholat sunnah 1000 rakaat, melawat orang mati syahid dan menjenguk 1000 orang sakit”.

Uraian Dalil:

  • Ynag dimaksud majelis nasehat/majelis dzikir adalah majelis yang membahas Ilmu Agama (halal-haram, dll)

Sholat sunnah, melawat orang mati syahid serta menjenguk orang sakit adalah sesuatu yang sangat besar pahalanya. Namun dari hadits diatas, bahwa semuanya itu masih kalah dengan keutamaan mendatangi majelis nasehat/majelis ilmu.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan ilmu itu sendiri. Sebab, tanpa adanya ilmu seseorang tidak bisa sholat sunnah, melawat orang mati syahid, atau menjenguk orang sakit. Sebab tidak tahu hukum dan tata caranya.

Sedangkan orang yang berilmu mengetahui hukum serta tata caranya. Dan tahu apa yang lebih baik untuk dilakukan dan seharusnya dikerjakan.

Dari Muadz bin Jabal, ia berkata:

Tuntutlah ilmu pengetahuan, karena menuntut ilmu termasuk amal yang baik, belajarnya termasuk ibadah, mudzakarohnya (mengulang-ulang) termasuk tasbih, membicarakannya termasuk jihad. Memberikan ilmu termasuk ibadah dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahui termasuk sedekah.

Loading...

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: