Menelisik Cita Rasa Kopi Gayo, Salah Satu Kopi Terbaik di Dunia

Kopi asal Aceh, ya Kopi Gayo dari takengon memang cukup terkenal, bukan hal yang asing lagi bagi masyarakat dunia dengan fakta bahwa Indonesia memiliki beragam jenis kopi yang tersebar di seluruh daerahnya.

Masing-masing komoditas kopi di Indonesia sendiri memiliki ciri unik yang khas dari karakter rasa dan aromanya masing-masing. Selain itu, kopi juga menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia.

Juga menjelma sebagai penopang utama perekonomian di daerah bertopografi pegunungan yang cocok bagi pembudidayaan kopi. Salah satunya adalah kopi Gayo.

Kopi yang berasal dari Aceh ini sebenarnya adalah varietas Arabica yang dibudidayakan sejak lama di tanah Serambi Mekah tersebut.

Kopi Gayo sendiri telah menjadi bak primadona tersendiri bagi para penikmat kopi, baik di Indonesia maupun di luar negeri, terutama di Uni Eropa seperti halnya Kopi Kintamani Bali dan Kopi Toraja.

Di Aceh sendiri, kopi Gayo ditanam di dataran tinggi yang menjadi pusat kopi Gayo. Yakni Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Luwes.

Tiga daerah pusat itu memiliki hingga 60 jenis kopi Gayo. Namun, dari sekian banyak varietas kopi itu diambil 2 untuk pengembangan atas saran dari Kementrian Pertanian karena dianggap memiliki kualitas baik.

Kopi Gayo Memiliki Rasa yang Tidak Konsisten

Kopi arabika dari dataran tinggi Gayo telah dikenal dunia dengan cita rasanya yang khas berkarakter aroma yang pekar dan rasa yang kompleks serta kekentalan kopinya.

Dari sejarah tentang kopi Gayo, ternyata sudah lama minuman ini menjadi pujaan karena perbedaan rasa dari waktu ke waktu. Sejak zaman Belanda, kopi merupakan minuman yang banyak dikonsumsi.

Uniknya, kopi asal Aceh ini tidak punya stabilitas rasa yakni salah satu ciri khas dari kopi Gayo adalah rasanya yang cenderung tidak konsisten.

Hal tersebut diakibatkan oleh perkebunan di daerah ini memiliki ketinggian yang berbeda serta beragamnya cara pembudidayaan. Jika penasaran bisa baca juga disini Macam Rasa Kopi dari Belahan Dunia.

Jadi, jika seseorang ingin membuktikan kemampuannya dalam analisis kopi maka dapat menggunakan kopi asal Nangroe Aceh Darussalam tersebut sebagai referensi.

Bila mampu merasakan kapan legitnya maksimal, maka penikmat kopi tersebut telah naik ke level tertinggi. Kopi arabika yang ditanam pada ketinggian di bawah 1.200 mdpl cenderung memiliki kualitas fisik yang jelek.

Yakni keasaman rendah dan kurang kental, serta rasa yang tidak disukai oleh penikmat kopi. Sedangkan kopi yang ditanam di atas ketinggian 1.200 mdp menghasilkan kopi yang berkualitas dengan cita rasa yang lebih kompleks.

Kopi Gayo Menjadi Kopi Organik Salah Satu di Indonesia

Pembudidayaan kopi Gayo yang diolah secara organik yang hanya dapat dilakukan pada kondisi sumber daya lahan yang tingkat kesuburan tanahnya tinggi curah hujan cukup, serta daya dukung lingkungannya tinggi.

Banyak hal yang harus diperhatikan dalam pengolahan kopi organik ini, dan Aceh menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang telah mengekspor kopi organik.

Premium yang dihasilkan pun berkisar antara 50 hingga 70.5 persen yang merupakan persentase tertinggi dari seluruh penghasil kopi dunia. Saat ini, semua konsumen yang sadar akan pentingnya minuman dan makanan organik.

Hal inilah yang membuat kopi Gayo menjadi favorit diatara tanaman lain karena ditanam secara alami tanpa pestisida maka kualitasnya pun bisa terjaga.

Bahkan kopi ini mempunyai banyak manfaat jika dikonsumsi secara rutin dengan kadar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kopi Gayo Go International dengan Harga Termahal

Pembudidayaan kopi Gayo menjadi kopi organik telah mendapat pengakuan dari berbagai belahan dunia, dengan diterimanya sertifikat Indikasi Geografis Kopi Arabika Gayo pada 27 Mei 2010.

Kemudian pada acara Lelang Spesial Kopi Indonesia pada 10 Oktober 2010 yang diselenggarakan di Bali ini juga menyatakan bahwa kopi arabika dari dataran tinggi Gayo merupakan kopi organik terbaik di dunia.

Penghargaan kepada kopi Gayo sebagai kopi terbaik di dunia juga datang dari Speciality Coffee Assosiation of Europe (SCAE) yang merupakan asosiasi kopi spesial yang terkonsen pada standar kualitas kopi dunia di Eropa.

Selain itu, pengakuan juga datang Speciality Coffee Assosiation of America (SCAA) yang melihat pembudidayaan kopi Gayo yang bernar-benar organik.

Dari segi produktivitas, kopi arabika Gayo memang masih tergolong rendah dengan 1 ton green bean per hektar per tahunnya. Karena sebagian besar petani kopi di daerah ini memang masih mempertahankan pola pertanian konvensional.

Hal itu justru membuat kopi Gayo menjadi kopi yang eksklusif karena kualitas, aroma, dan rasanya yang spesifik berkat pola pembudidayaan organik yang terus dipertahankan.

Kopi Gayo dengan beragam keunggulannya tersebut dapat menentukan harga pasar sendiri tanpa mengacu pada pasar dunia, karena kualitas premium yang ditawarkan akan membuat para penikmat kopi berani membeli dengan harga tinggi.

Bahkan harga yang dibanderol untuk satu kilogram green bean kopi Gayo sudah mencapai 250 ribu IDR hingga 400 ribu IDR.

Jadi, kekayaan alam di Indonesia memang harus dikembangkan bersama sebagai salah satu usaha memajukan perekonomian negara. ~ Elizato.com

Category:
General
Tags: