Rumah Adat Gorontalo dengan Karakteristik yang Unik

RUMAH ADAT – Tahukan Anda bahwa dahulu wilayah Gorontalo — salah satu provinsi termuda di Sulawesi — adalah sebuah kerajaan terkenal bernama Dulowo limo lo pohalaa? Wilayah ini juga pernah menjadi pusat kebudayaan Islam di kawasan timur Nusantara! Tak heran bila masyarakatnya, yang didominasi suku Gorontalo, memiliki beragam budaya termasuk karya arsitektur.

Karya arsitektur berupa rumah adat dapat dikelompokkan menjadi rumah raja / bangsawan; rumah orang berada; dan rumah rakyat biasa. Yuk, kenali rumah adat Gorontalo dengan membaca artikel ini!

Karakteristik Rumah Adat Gorontalo

Rumah adat Gorontalo merupakan rumah berbentuk segiempat dengan perbandingan panjang, lebar, dan tinggi yang proporsional dan menggunakan struktur panggung. Rumah panggung (bele) disokong oleh tiga jenis tiang, yaitu dua tiang utama (wolihi), enam tiang depan/serambi, dan sejumlah tiang dasar (potu). Jumlah potu berbeda-beda untuk setiap jenis rumah, yaitu 32 untuk rumah raja, 28 untuk rumah golongan menengah, dan 20 untuk rumah rakyat biasa.

Secara vertikal rumah adat Gorontalo menganalogikan kepala, badan, dan kaki. Kepala diwakili oleh atap yang bagian dalamnya dimanfaatkan sebagai ruang penyimpanan. Badan adalah bagian rumah induk. Kaki adalah kolong/tiang rumah (tahuwa) yang dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan, seperti menyimpan hasil bumi dan alat-alat pertanian.

Sementara itu, tata ruang horizontal rumah adat Gorontalo secara umum terdiri dari beranda/serambi depan (sulambe) untuk menerima tamu pria; ruang tengah (duledehu) untuk menerima tamu wanita; ruang tidur (huali); dan ruang-ruang bagian belakang (dulawonga) untuk mengaso; dan ruang belakang atau dapur (depula) yang terpisah dan dihubungkan dengan selasar. Rumah raja tidak memiliki dapur karena makanan raja dimasak di luar “istana”. Namun, di kanan kiri rumah ada serambi (hantaleya) tempat pengawal berjaga.

BACA:

Nilai Filosofis Dan Keindahan Arsitektural

Meskipun rumah adat Gorontalo berbeda ukuran, tata ruang, dan estetikanya, tetapi semua mengemban nilai-nilai filosofis yang kuat. Nilai filosofis terutama dari ajaran agama (Islam) serta adat istiadat dan kepercayaan masyarakat tradisional Gorontalo.

Sebagai contoh, atap susun dua dan dua tiang wolihi melambangkan adat dan syariat. Tiang wolihi juga lambang ikrar persatuan/kesatuan abadi Gorontalo-Limboto. Jumlah anak tangga 5 s/d 7 berdasarkan Lima Rukun Islam serta lima prinsip hidup masyarakat Gorontalo; dan 7 tingkatan nafsu manusia. Lima prinsip hidup adalah keturunan dijaga, negeri dibela, diri diabdikan, harta diwakafkan, dan nyawa sebagai taruhan; tujuh tingkatan nafsu manusia adalah amarah, lauwamah, mulhimah, muthmainnah, rathiah, mardhiah, dan kamilan.

Secara arsitektural, keindahan rumah adat Gorontalo terlihat dari keseluruhan desain rumah panggung. Untuk menaiki rumah pada bagian depan dibuat dua tangga adat (tolitihu) yang simetris yang bermuara pada serambi atau anjungan.

Kesan artistik bangunan didukung dengan pemilihan kayu dan material alami lain untuk elemen-elemen rumah. Misalnya, konstruksi atap kayu ditutup rumbia; dinding dan lantai tersusun dari papan kayu; pilar-pilar kayu kokoh menyokong bangunan; dan sebagainya.

Keunikan dan nilai artistik juga terpancar dari berbagai bentuk arsitektural dan ornamen khas sebagai hiasan. Misalnya, desain pintu dan jendela; desain railing pada serambi dan tangga; penerapan ukir-ukiran pada tiang kayu ataupun hiasan ornamen pada lisplang, plafon, dan sebagainya.

BACA:

Bandayo Poboide dan Dulohupa

Rumah adat Gorontalo Bandayo Poboide yang dikenal saat ini pada dasarnya mewakili rumah tempat tinggal raja/bangsawan. Zaman dahulu rumah adat ini selain digunakan sebagai “istana” tempat tinggal raja dan keluarganya juga dijadikan pusat pemerintahan.

Berangkat dari arti kata bandayo (berarti gedung) dan poboide (berarti tempat musyawarah), rumah adat ini juga berfungsi sebagai tempat bermusyawarah. Di sini para pemangku adat (baate) dan tokoh agama berkumpul untuk merundingkan masalah kemasyarakatan/kerajaan. Kini, Bandayo Poboide juga dimanfaatkan sebagai tempat pagelaran budaya atau kegiatan pariwisata lain.

Sementara itu, rumah adat Gorontalo Dulohupa merupakan rumah yang diperuntukkan sebagai tempat musyawarah. Fungsi ini sesuai dengan arti dulohupa dalam bahasa Gorontalo, yaitu kesepakatan/mufakat. Namun, pada era kerajaan rumah ini juga berfungsi sebagai tempat pengadilan. Siapa pun yang melanggar hukum adat atau hukum agama (Islam) dan prajurit yang melanggar hukum militer akan diadili di sini.

Pada masa kini, Dulohupa oleh masyarakat digunakan sebagai “gedung pertemuan” untuk melaksanakan berbagai upacara adat, seperti perkawinan atau tradisi masyarakat yang lain.

Pada dasarnya, rumah adat Gorontalo Bandayo Poboide dan Dulohupa memiliki kesamaan. Menurut dimensi serta penerapan pilar, keduanya tergolong bukan rumah rakyat kebanyakan karena mimiliki 32 tiang dasar (potu).

Beberapa perbedaan ditemukan pada penataan ruang dalam dan hiasan. Interior Bandayo Poboide terdiri dari beberapa ruang dengan sekat-sekat pembatas, sedangkan Dulohupa hanya terdiri dari satu ruang tanpa sekat.

Jika berwisata ke Provinsi Gorontalo, Anda dapat menemukan arsitektur rumah adat Gorontalo meskipun kebanyakan telah dimodifikasi serta diganti materialnya. Rumah adat Bandayo Poboide yang cukup representatif dapat dijumpai di Limboto, sedangkan Dulohupa atau Hulondhalo dapat dijumpai di “Kota Serambi Madinah” Gorontalo.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: