5 Rumah Adat Kalimantan Selatan dengan Keunikannya Masing-masing

Rumah Adat Kalimantan Selatan – Rumah adat daerah merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang keberadaannya harus dijaga dan dipertahankan. Setiap suku atau masyarakat adat di kepulauan Indonesia memiliki rumah adat dengan ciri khas dan nilai filosofisnya yang berbeda satu dengan yang lain.

Dalam artikel ini kita akan membahas seputar rumah adat Kalimantan Selatan Suku Banjar, yang memiliki arsitektur unik berdekatan dengan alam lingkungan sekitarnya.

Umumnya rumah adat di Kalimantan Selatan Suku Banjar memiliki struktur dan bentuk sesuai dengan strata sosial pemilik rumahnya. Ada sekitar 12 rumah adat di Kalimantan Selatan.

Namun dalam artikel ini kita akan membahas beberapa saja, di antaranya rumah adat Bubungan Tinggi, Gajah Manyusu, Palimbangan, Gajah Baliku,  dan rumah adat Lanting. Langsung saja simak ulasannya berikut ini!

1. Rumah Adat Bubungan Tinggi

Rumah Adat Bubungan Tinggi

Rumah adat ini awalnya adalah rumah kesultanan Kalimantan Selatan. Seiring waktu banyak rumah masyarakat Banjar yang mengadaptasi konsep bangunan rumah adat tersebut.

Konsepnya berupa rumah panggung menggunakan bahan dari kayu ulin yang mampu bertahan hingga ratusan tahun. Bagian atapnya menjulang tinggi dengan sudut kemiringan sekitar 45 derajat.

Atapnya mirip seperti pelana kuda. Itu sebabnya disebut atap pelana. Bagian atap yang menutupi bagian tengah sampai ke depan disebut atap sindang langit. Sedangkan bagian yang menutup dari tengah ke belakang disebut atap hambin awan. Di bagian puncak bubungan atap terdapat ragam motif hias.

2. Rumah Gajah Manyusu

Rumah Gajah Manyusu

Rumah adat di Kalimantan Selatan berikutnya adalah Rumah Gajah Manyusu. Salah satu ciri khasnya adalah bagian atapnya mirip limas dengan atap mansaet di bagian depangnya.

Zaman dulu, bentuk bangunan induk rumah berbentuk segi empat yang memanjang dari depan ke belakang yang menutupi bagian depan dengan bahan atap mengunakan perisai buntung atau atap hidung bapicik.

Atap perisai buntung tersebut menutupi ruang serambi pamedangan sampai ke ruangan di belakangnya. Disebut Rumah Gajah Manyusu karena terdapat ruang tambahan di sisi kanan dan kiri yang dibuat simetris, sama panjang dengan posisi agak kebelakang. Ruangan tambahan tersebut disebut anjung, sedangkan dalam bahasa Banjar disebut disumbi.

3. Rumah Palimbangan

Rumah Palimbangan

Rumah adat Palimbangan merupakan salah satu rumah tradisional Suku Banjar Kalimantan Selatan. Pada Zaman Kesultanan Banjar, rumah ini digunakan oleh para tokoh agama islam atau saudagar .

Bagian atap pada rumah induk menggunakan atap pelana dengan tebar layar, disebut Tawing Layar. Umumnya rumah ini tidak menggunakan anjung, namun jika menggunakan anjung yang digunakannya adalah tawing layar yang menghadap ke depan.

Bagian teras depan ditutup menggunakan atap sengkuap atau atap lessenaardak, disebut juga atap Sindang Langit. Sekarang penggunaan atap teras melebar sampai di depan anjung membentuk atap yang menjurai ke luar pada ujung sudut atap empernya.

BACA:

4. Rumah Adat Gajah Baliku

Rumah Adat Gajah Baliku

Rumah adat Kalimantan Selatan yang satu ini merupakan rumah peninggalan Zaman Kesultanan Banjar yang fungsinya sebagai tempat tingga Warit Raja yaitu garis keturunan pertama atau bubuhan para gusti. Rumah yang dihuni oleh para calon pengganti Raja ini agak mirip dengan rumah adat Bubungan Tinggi yang sudah kita bahas sebelumnya.

Perbedaannya dengan Bumbungan Tinggi adalah pada ruang tamunya atau ruang paluaran. Pada rumah Bumbungan Tinggi lantainya dibuat berjenjang sedangkan di rumah Gajah Baliku konstruksi lantainya tidak berjenjang. Perbedaan tersebut karena pada Bubungan Tinggi bangunannya memiliki tata nilai ruangan yang sifatnya hierarkis/bangunan kesultanan.

Bagian Atap rumah Gajah Baliku menggunakan konstruksi kuda-kuda sedangkan atap perisainya (atap gajah) dengan lantai ruangan dibuat datar sehingga benuk bangunan rumah ini diberi nama Ambin Sayup. Sedangkan dikedua anjung sama-sama menggunakan atap sengkuap atau pisang sasikat.

5. Rumah Lanting

rumah lanting

Berbeda dengan rumah adat kalimatan Selatan lainnya yang sudah dibahas, pada rumah adat yang satu ini tidak berada di atas tanah, namun dipermukaan sungai atau danau. Wilayah di Kalimantan Selatan banyak yang dialiri sungai.

Kehidupan mata pencaharian Suku Banjar berhubungan dengan sungai, danau dan rawa. Bagi Suku Banjar yang tinggal di pinggir sungai memiliki rumah adat yang diberi nama rumah Lanting. Tidak seperti rumah pada umumnya, rumah lanting adalah rumah rakit yang fungsinya sebagai tempat tinggal.

Pondasinya menggunakan rakit mengapung terbuat dari susunan kayu-kayu dari pohon besar. Dasar bangunan rumah menggunakan gelagar ulin yang dipasang di bagian atas. Bagian bumbung rumah menggunakan atap pelana. Karena berada di permukaan danau atau sungai, rumah adat ini selalu terombang ambing karena gelombang air.

Demikian informasi mengenai 5 rumah adat di Kalimantan Selatan. Semoga artikel ini memberikan referensi khususnya seputar rumah adat Kalimantan Selatan. Jangan sampai ketinggalan artikel yang membahas rumah adat dari daerah lainnya di Indonesia yang tidak kalah menarik, masih di website kesayangan Anda ini.