Mengenal Rumah Adat Papua yang Begitu Unik

RUMAH ADAT Rumah adat Papua disebut juga dengan Rumah Honai. Kendati hanya melalui gambar, paling tidak Anda sudah pernah melihat rumah adat Papua. Ya, rumah adat Papua bisa dibilang sangat unik dan khas. Keunikan dan kekhaasannya itulah yang menjadikannya bagian penting dari kebudayaan di Indonesia. Sekaligus memperkaya ragam rumah adat di Indonesia dari ujung ke ujung.

Honai berasal dari kata yaitu “Hun’ yang artinya laki-laki dewasa dan ‘Ai’ yang artinya rumah. Secara harfiah, dapat diartikan rumah lelaki dewasa. Sementara itu, untuk kaum perempuan ada juga istilahnya, yaitu Ebeai. Secara harfian ‘Ebe’ dapat diartikan sebagai ‘tubuh’ dan ‘ai’ diartikan sebagai rumah.

Hal ini dapat dimaknai bahwa perempuan adalah rumah bagi janin yang dikandung dan kelak menjadi manusia yang bergun. Honai dan Ebeai memiliki fungsi yang berbeda bagi masyarakat Papua.

Rumah adat Papua bisa dibilang sangat unik dan berbeda dari rumah adat lainnya. Baik dari segi material yang digunakan, arsitektur, dan filosofinya. Keunikan inilah yang memperkaya budaya dan rumah adat di Indonesia. Karakter masyarakat asli Papua adalah sangat menghormati dan menjaga adat istiradat serta budaya mereka.

Tidak heran jika Anda berkunjung ke suku-suku asli Papua, akan dengan mudah menemukan rumah adat serta ritual adat yang masih mereka jalani. Tugas kita adalah membantu mereka melestarikan budaya yang merupakan bagian dari keragaman di Indonesia.

Jenis-Jenis Rumah Adat Papua

rumah adat papua
wikipedia

Secara umum rumah adat Papua ada tiga jenis, yaitu Honai, Ebeai, dan Wamai. Rumah Honai adalah laki-laki, Ebeai biasa digunakan kaum perempuan, dan Wamai adalah rumah yang dihuni hewan peliharaan seperti babi.

BACA JUGA:

1. Rumah Honai

Rumah Honai berbentuk lingkaran dengan diameter 5 meter dan tinggi lebih kurang tiga meter. Bagian atapnya berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Di bagian tengahnya ering digunakan api unggun. Rumah Honai sengaja dibuat tidak luas dengan tujuan untuk menahan hawa dingin di pegunungan Papua.

Hanya ada satu pintu di rumah Honai, yaitu di bagian depan. Ada juga rumah Honai yang memiliki panggung yang digunakan untuk beristirahat.

Bukan hanya tempat tinggal, rumah Honai juga berfungsi untuk menyimpan persenjataan yang digunakan untuk berburu dan berperang. Selain itu juga digunakan untuk menyimpan barang-barang  yang biasa digunakan untuk upacara adat.

Rumah Honai juga berfungsi sebagai tempat pendidikan anak laki-laki. Mereka digembleng cara berburu, berperang, dan bertahan hidup. Penduduk asli Papua juga mengatur strategi perang di rumah Honai ini karena perang antarsuku tak dipungkiri masih sering terjadi.

Bagi Suku Dani, salah satu suku di Papua, rumah Honai ini juga berfungsi sebagai pemersatu masyarakat yang ada dalam satu suku. Itu dilambangkan arsitektur rumah yang berbentuk lingkaran. Selain itu rumah Honai adalah pemersatu.

Sebagai contoh ketika ada pernikahan antarsuku, maka pengantin akan melewati malam pertama di rumah Honai. Selain itu penduduk Papua yang berbeda suku akan berkumpul di rumah Honai . Itu sebabnya rumah adat Papua sangat disakralkan karena sebagai tempat pemersatu.

2. Rumah Ebeai

Rumah Ebeai adalah rumah yang dihuni oleh kaum perempuan. Bentuknya hampir sama, hanya saja rumah Ebeai lebih rendah, hanya setinggi 2 meter saja. Diamter ruangan pun tak besar hanya sekitar 4 atau 5 meter. Besar kecilnya rumah tergantung dari jumlah perempuan yang tinggal di rumah tersebut.

Tak heran jika satu rumah Ebeai dihuni sampai 10 orang, karena ibu bertugas untuk merawat dan menjaga anak-anak.

Fungsi Ebeai hampir sama dengan Honai, yaitu sebagai tempat mendidik anak-anak. Jika Honai digunakan untuk mendidik anak laki-laki, maka Ebeai berfungsi sebagai ‘tempat belajar’ anak-anak perempuan.  Mereka akan diajari keterampilan dan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci dan memasak sampai mereka dewasa dan menikah.

Anak laki-laki juga tinggal di rumah Ebeai. Namun mereka hanya tinggal sementara waktu. Setelah beranjan dewasa dan siap memasuki dunia baru anak laki-laki harus keluar dari rumah Ebeai dan tinggal di rumah Honai. Masyarakat asli Papua percaya bahwa isi rumah haruslah dijaga sedemikian rupa sehingga tidak ada satupun yang boleh merusaknya.

BACA JUGA:

3. Rumah Wamai

Hewan ternak adalah bagian penting dari masyarakat asli Papua. Tak heran jika hewan ternai seperti babi dibuatkan rumah khusus dan merupakan bagian dari adat mereka. Tak ada patokan khusus berapa ukuran untuk rumah Wamai. Biasanya penduduk Papua akan membangun Wamai sesuai dengan jumlah hewan ternak yang ada di daerah tersebut. Wamai akan dibangun lebih besar jika terdapat banyak hewan ternak.

Bagaimana, sangat unik kan rumah Adat Papua? Keragaman budaya ini harus dilestarikan. Masyarakat Papua masih menjunjung tinggi adat sampai sekarang. Tak heran jika berkunjung ke Papua Anda akan mudah menemukan rumah Honai atau Ebeai.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: