5 Rumah Adat Riau dengan Fungsi dan Keunikannya Masing-masing

Rumah adat riau disebut juga dengan rumah adat Melayu. Riau dan Melayu merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan karena masyarakat Riau merupakan suku Melayu. Rumah adat di Riau fungsinya ada yang dijadikan rumah tempat tinggal atau bangunan bersama untuk kepentingan masyarakatnya.

Ada berbagai nilai filosifis yang bisa ditemukan jika membahas rumah adat ini, misalnya jumlah anak tangganya 5. Ternyata jumlah tersebut mengacu kepada rukun islam yang jumlahnya 5. Arsitektur dengan konsep seni dengan nilai-nilai agama sepertinya menjadi syarat mutlak dalam membangun rumah adat.

Selain itu, corak atau ornamen yang digunakan bersumber dari alam, seperti hewan, tumbuhan dan benda-benda angkasa. Bentuk ornamen tumbuhan atau bunga diambil seperti bentuk asalnya, seperti bunga kundur dan bunga hutan. Sedangkan ornamen binatang biasanya sudah mengalami modifikasi sehingga tidak menyerupai bentuk aslinya.

Hal ini karena orang Melayu mayoritaas beragama islam sehingga dikhawatirkan corak hewan menjadi berbau musrik. Jika ada corak hewan yang diambil, itupun karena mengandung sifat tertentu yang berhubungan dengan kepercayaan atau mitos.

Namun, sayangnya di antara beberapa rumah adat Riau ada yang tinggal sejarah saja, tidak berfungsi sehingga tidak sedikit mengalami kerusakan. Selain itu ada juga yang fungsinya sudah berubah dengan renovasi menjadi bangunan modern untuk hotel.

BACA:

1. Rumah Adat RIAU Selaso Jatuh Kembar

Rumah Adat tradisional riau selaso jatuh kembar
http://riauberbagi.blogspot.com

Rumah Selaso Jatuh Kembar atau disebut juga dengan nama Balai Selaso Jatuh adalah bangunan adat yang fungsinya bukan untuk tempat tinggal, namun sebagai tempat untuk rapat dan musyawarah adat. Jadi tidak heran jika masyarakat Riau menyebut rumah ini dengan berbagai sebutan, seperti Balairung Sari, Balai Pengobatan, Balai Kerpatan tergantung fungsi rumah adat tersebut digunakan.

Dulu, setiap desa di Riau memiliki satu buah rumah adat Selaso Jatuh Kembar, namun saat ini kegiatan rapat dan musyawarah sudah tidak dilakukan di  rumah adat, seperti kegiatan musyawarah sekarang kerap dilakukan di rumah warga atau musyawarah dilakukan di masjid.

Ciri khas rumah adat Selaso Jatuh Kembar adalah bagian selasar rumah dibangun lebih rnedah dibandingkan dengan ruang dalam (tengah). Di dalam rumah tidak ada ruangan atau kamar-kamar seperti rumah pada umumnya, hanya ada sekat yang memisahkan ruang tengah dan ruang telo. Ruang telo adalah ruangan untuk menyimpan makanan.

2. Rumah Adat RIAU Lipat Kajang

Rumah adat lipat kajang

Rumah adat Riau berikutnya adalah rumah Melayu Lipat Kajang, sayangnya rumah ini sudah mulai punah. Walaupun ada, fungsinya menjadi bangunan pemerintah dan sudah mengalami renovasi dengan konsep terlihat modern.

Seperti namanya, rumah adat ini memiliki lipatan bumbung yang sedikit curam. Bumbungan dibuat curam agar bisa mengalirkan air hujan ke bawah. Bagian dinding dan lantai biasanya dibuat anyaman sehingga memungkinkan udara keluar masuk.

Berbeda dengan rumah adat panggung lainnya, walaupun Melayu Lipat Kajang konsepnya panggung namun tidak menggunakan tiang penyangga karena konsep pondasinya langsung melekat di tanah. Secara umum bahan yang digunakan rumah adat ini adalah kayu dan bahan alam lainnya. Namun sayang akibat pencampuran budaya dan perubahan zaman membuat rumah adat ini sudah jarang bahkan bisa jadi lambat laun hilang oleh peradaban.

3. Rumah Adat RIAU Atap Lontik

rumah adat atap lontik

Beberapa nama diberikan untuk rumah adat Melayu Atap Lontik, ada yang menyebutnya rumah Lancang, rumah Pencalang karena atapnya runcing. Seperti rumah adat lainnya khas Sumatera, atap rumah Melayu Atap Lontik bentuknya mirip seperti tanduk kerbau.

Bagian sisi dinding miring keluar seperti bentuk perahu (lancing). Banyak yang beranggapan rumah adat ini terinspirasi dari rumah adat daerah Minangkabau, apalagi dua wilayah tersebut saling berdekatan. Anak tangga di bagian depan rumah berjumlah 5, melambangkan rukun Islam dimana filosofinya tangga tersebut bisa mengantarkan naik ke atas mengantarkan manusia ke surga.

Tidak sekedar bangunan, rumah Lontik merupakan symbol penghormatan kepada Tuhan dan kasih sayang kepada sesame umat manusia.

4. Rumah Adat RIAU Atap Limas Potong

Rumah Adat Rumah Limas Potong

Seperti namanya, rumah adat ini berbentuk limas yang terpotong dengan bagian atap tidak lancip. Konsepnya rumah panggung dengan tinggi sekitar 1.5 meter dari permukaan tanah. Dindingnya terbuat dari papan dan terdapat beberapa ruangan, yaitu terdiri dari bagian teras, ruangan depan, ruang tengah dan ruang belakang yang digunakan untuk tempat tidur dan dapur. Ukuran rumah menandakan kekayaan pemilik rumah, semakin besar rumahnya maka harta benda pemilik tersebut banyak.

5. Rumah Adat RIAU Belah Bubung

Rumah Adat Belah Bubung

Rumah panggung dengan tinggi sekitar 2 meter dari permukaan tanah ini memiliki bentuk yang unik dan khas, terutama dibagian atapnya. Pemberian nama Belah Bubung karena rangka atapnya dibuat menggunakan bahan bubung atau bamboo dengan desain terlihat seperti terbelah dua.

Bahan yang digunakan rumah adat ini umumnya berasal dari alam sehingga menjadikannya rumah ramah lingkungan. Bagian tiang, tangga, bendul, gelagar dan rasuk menggunakan bahan kayu. Bagian dinding dan lantainya menggunakan bahan papan sedangkan atapnya terbuat dari daun nipah atau daun rumbia. Bentuk atapnya mirip pelana kuda.

Loading...

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: