Rumah Adat Sulawesi Barat dan Keindahan Arsitekturnya

RUMAH ADAT – Masyarakat Sulawesi Barat dikenal sebagai pelaut ulung menggunakan perahu Sandeq untuk menjelajah ke berbagai wilayah nusantara, hingga ke Australia dan Malaysia. Sedangkan masyarakatnya yang tinggal di pegunungan memiliki kemiripan dengan Suku Toraja di Sulawasi bagian Selatan.

Sama halnya dengan provinsi lainnya di Indonesia, Sulawesi Barat juga yang memiliki berbagai peninggalan budaya, salah satunya adalah rumah adatnya yang dinamai rumah Boyang dengan arsitektur unik yang menjadi ciri khasnya.

Seperti rumah adat di Indonesia lainnya, rumah tidak sekedar memiliki fungsinya sebagai rumah, namun memiliki makna filosofis yang dalam. Seperti apakah itu? simak ulasannya berikut ini.

Struktur Dan Arsitektur Rumah Adat Sulawesi Barat

rumah adat sulawesi barat

Rumah adat Boyang merupakan rumah adat khas Suku Mandar, Sulawesi Barat berbentuk rumah panggung menggunakan bahan kayu. Tiang-tiang kayu besar dengan tinggi 2 meter menjadi penopang lantai dan atap rumah.

Uniknya, tiang-tiang tersebut tidak di tanpakan ke tanah layaknya rumah modern, melainkan ditumpangkan di batu datar. Ternyata konsep tersebut dapat mencegah kayu lapuk.

Karena bentuknya panggung maka rumah Boyang dilengkapi tangga di bagian depan dan belakang rumah. Uniknya tangga-tangga tersebut memiliki anak tangga berjumlah ganjil antara 7 – 13 buah dan dibagian sisi kanan kirinya dilengkapi pegangan.

Bagian dinding dan lantai rumah menggunakan bahan papan. Papan untuk dinding umumnya dilengkapi ukiran motif khas Suku Mandar. Rumah adat ini juga dilengkapi jendela yang berfungsi untuk sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ke dalam rumah.

Bagian atap rumah memanjang dari depan ke belakang berbentuk prisma dan menutup semua bagian rumah. Bagian atapnya terbuat dari daun rumbia yang dihias dengan ornamen dan motif khusus seperti tumbag layar, bunga melati ujung bubungan. Pada ujung atap terdapat ukiran burung atau ayam jantan dan ornamen teppang di atas bubungan.

BACA:

Fungsi Rumah Adat Boyang

Pada zaman dahulu, rumah Boyang digunakan sebagai tempat tinggal Suku Mandar. Untuk menunjang aktivitas sehari-hari, rumah adat Boyang dibangun menjadi beberapa ruangan. Ruangan di dalam rumah di sebut Lotang.

Terdapat 3 buah lotang utama, yaitu samboyang, tangnga boyang dan bui boyang. Tedapat pula 4 lotang tambahan, yaitu tapang, lego-lego, paceko dan naong boyang. Untuk lebih jelasnya simak ulasan lotang rumah adat Boyang berikut ini!

Pembagian Ruang Rumah Adat Boyang

1. Lotang Utama

  1. Samboyang, berada di bagian depan rumah berfungsi sebagai ruang tamu. Pada waktu digelar acara adat, samboyang digunakan sebagai ruang berkumpul pria.
  2. Tangnga Boyang, berada di bagian tengah rumah. Ukurannya lebih luas dibandingkan samboyang. Fungsinya digunakan untuk berkumpul, melakukan berbagai aktivitas bersama keluarga.
  3. Bui Boyang, berada di bagian belakang. Terdapat beberapa kamar dengan atau disebut Songi. Dibuat khusus untuk kamar tidur para anggota keluarga dengan ukuran yang beragam.

2. Lontang Tambahan

  1. Tapang, berada di loteng biasanya berfungsi sebagai gudang atau tempat untuk menyimpan berbagai macam barang. Zaman dulu, tapang digunakan untuk calon pengantin wanita, karena tempatnya di atas dan tersembunyi. Maksud atau artinya bahwa calon pengantin harus menjaga kesuciannya. Tedapat tangga dari bahan bamboo atau balok kayu. Tangga tersebut tidak permanen, hanya digunakan pada saat ruangan digunakan.
  2. Paceko, ruangan tambahan yang satu ini letaknya menyilang dengan bangunan utama dengan lebar sama. Dalam bahasa Indonesia, paceko artinya dapur, fungsinya seperti dapur pada umumnya sebagai tempat untuk menyimpan bahan makanan dan memasak. Di dalam paceko terdapat kamar mandi.
  3. Lego-Lego, adalah bagian depan rumah/teras yang memiliki atap, tapi tidak ada dinding. Fungsinya untuk bersantai pada waktu pagi hari atau sore hari.
  4. Naong Boyang, adalah ruangan di bagian bawah bangunan atau kolong rumah. Alasnya tanah dan biasanya digunakan sebagai kandang ternak sekaligus dijadikan tempat menenun para wanita.

BACA:

Ciri Khas Rumah Adat Boyang

rumah adat sulawesi boyang

Gaya arsitektur rumah adat Boyang memiliki keunikannya sendiri, seperti bentuk atapnya mirip pelana, memanjang dari depan hingga ke belakang menutupi rumah. Dilengkapi hiasan ornamen di bagian dinding, tangga, plafon, atap hingga di bagian-bagian lainnya.

Selain sebagai hiasan, ornamen-ornamen yang digunakan memiliki makna dan nilai filosofis yang menjadi identitas Suku Mandar Sulawesi Barat. Corak dan ornamennta bersumber dari alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hewan, agama dan kepercayaan masyarakat setempat.

Selain itu, keunikan lainnya rumah adat Boyang adalah dibangun menghadap ke arah matahari terbit (Timur). Arah bangunan rumah tersebut memiliki makna atau simbol sebagai keselarasan, harmonisasi kehidupan.

Demikian informasi seputar rumah adat, khususnya rumah adat Boyang khas Suku Mandar Sulawesi Barat yang menarik untuk dipelajari. Anda bisa mendapatkan informasi lainnya seputar rumah adat di berbagai provinsi di Indonesia.

Semoga artikel ini dapat menambah referensi dan wawasaan kekayaan arsitektur bangsa Indonesia.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: