Rumah Adat Sulawesi Selatan dengan Keunikan Arsitekturnya

RUMAH ADAT – Seperti rumah adat di Sulawesi Selatan lainnya, di bagian bawah bangunan terdapat kolong rumah yang dijadikan kandang atau tempat menyimpan peralatan. Apa saja keunikan dari rumah yang menjadi ikon budaya dan terkenal hingga ke mancanegara ini? Langsung saja simak ulasannya berikut ini.

Keunikan Rumah Adat Sulawesi Selatan

Rumah adat Sulawesi Selatan yakni rumah adat Toraja atau yang diberi nama rumah Tonkonan adalah bangunan rumah dengan desain arsitektur yang unik dan nilai filosofis serta makna yang terkandung di dalamnya. Bahan yang digunakan untuk membangun rumah ini 100% semuanya terbuat dari kayu.

Jika dilihat rumah adat suku Toraja ini mirip seperti rumah gadang Sumatera dengan bagian atap yang melengkung. Keunikan lainnya bisa Anda lihat dari struktur, arsitektur, fungsi hingga mengandung makna filosofis.

Struktur Dan Arsitektur Rumah Adat Sulawesi Selatan

rumah adat sulawesi selatan

Struktur rumah adat Sulawesi selatan memiliki tiang-tiang penyangga berbentuk bulat berjajar. Tiang-tiang ini menjadi penyokong bangunan berdiri tegak. Uniknya tiang-tiang ini tidak ditanam di dalam tanah melainkan ditumpangkan ke batu besar yang dipahat berbentuk persegi.

Bagian dinding dan lantainya terbuat dari papan yang disusun. Cara merekatkannya tanpa paku, hanya diikat atau ditumpangkan menggunakan sistem kunci. Walaupun tidak menggunakan paku, bangunan rumahnya tetap kokoh dan kuat bahkan mampu bertahan hingga puluhan tahun.

Keunikan yang menjadi ciri khas rumah ini adalah bagian atapnya yang berbentuk mirip perahu terbalik dilengkapi dengan buritannya. Ada juga yang menganggap atap rumah tersebut mirip seperti tanduk kerbau.

Bagian atap rumah dibuat dari ijuk atau daun rumbia. Di zaman sekarang banyak ditemukan atap rumah tongkonan menggunakan bahan bangunan seperti seng.

BACA:

Fungsi Rumah Tongkonan

Selain sebagai identitas budaya, rumah adat tongkonan memiliki fungsi. Dulunya rumah ini menjadi rumah tempat tinggal suku Toraja dan dianggap sebagai lambang ibu.

Di halaman rumah biasanya disimpan lumbung padi, masyarakat lokal menamai dengan sebutan alang sura ialah perlambangan ayah. Berdasarkan fungsinya rumah adat ini dibagi menjadi tiga bagian ilah bagian atas, tengah dan bawah, berikut penjelasannya.

Pembagian Ruang Rumah Tongkongan

  1. Bagian Atas Rumah (Rattiang Banua)

Bagian ini merupakan ruangan yang terdapat di loteng, biasanya digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka yang sakral atau benda-benda penting lainnya.

  1. Bagian Tengah (Kale Banua)

Ruangan tengah rumah tongkonan merupakan ruangan inti yang dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan fungsinya, yaitu bagian utara, tengah dan selatan.

  • Bagian utara disebut ruangan Tengalok fungsinya untuk menerima tamu dan menyimpan sesaji. Jika pemilik rumah memiliki anak, biasanya ruangan ini digunakan untuk tidur anak.
  • Bagian tengah/pusat disebut Sali merupakan ruangan yang multifungsi, artinya bisa digunakan untuk pertemuan keluaga, ruang makan, dapur, sekaligus untuk menyimpan mayat yang diawetkan.
  • Bagian selatan disebut ruang sambung merupakan ruang khusus untuk kepala keluarga. Yang bisa masuk ke ruangan ini tidak bisa sembarang orang dan harus mendapatkan izin pemilik rumah.
  1. Bagian Bawah (Sulluk Banua)

Bagian bawah rumah adalah bagian kolong rumah. Biasanya digunakan untuk menyimpan peralatan pertanian atau kandang hewan peliharaan.

BACA:

Ciri Khas Rumah Togkongan

Rumah Tongkonan

Selain bentuk atapnya yang seperti tanduk kerbau atau perahu, ada ciri-ciri lainnya untuk membedakannya dengan rumah adat suku-suku lainnya yang ada di Indonesia, yaitu:

  • Ukiran di dinding menggunakan empat warna, yaitu: merah, kuning, hitam, dan putih. Setiap warna memiliki makna dan nilai filosofis. Merah melambangkan kehidupan, kuning melambangkan anugrah, hitam melambangkan kematian dan putih melambangkan kesucian.
  • Di bagian depan rumah terdapat tanduk kerbau yang fungsinya sebagai hiasan sekaligus penanda strata sebagai pemilik rumah. Apabila tanduk yang disusun semakin banyak maka artinya semakin tinggi pula strata pemili rumah. Tanduk kerbau digunakan sebagai lambang kemewahan atau kekayaan.
  • Terdapat bangunan lain yang terpisah dari rumah tongkonan yang fungsinya digunakan sebagai lumbung padi atau disebut alang sura. Bentuk bangunannya rumah panggung dengan tiang penyangga yang tebuat dari batang pohon palem. Penggunaan bahan tersebut dapat mencegah tikus masuk ke dalam. Selain itu, alang sura dilengkapi dengan hiasan ukiran gambar ayam dan matahari, maknanya melambangkan kemakmuran dan keadilan.
  • Umumnya rumah tongkongan dibangun mengarah ke utara dan berjajar. Atap runcing bagian atas rumah melambangkan leluruh suku Toraja yang berasal dari utara. Masyarakat Toraja percaya arwah yang sudah meninggal akan berkumpul dengan leluhurnya dari utara.

Demikian ulasan mengenai rumah adat suku Toraja, Sulawesi Selatan yang menjadi salah satu peninggalan nenek moyang dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Arsitekur rumah adat Sulawesi Selatan dengan nilai filosifis ini membuat bangunan ini tidak sekadar unik, namun menjadi sesuatu yang patut kita banggakan dan dijaga kelestariannya.

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: