Rumah Adat Sumatera Selatan dan Nilai Filosofinya

Bagi masyarakat Sumatera Selatan pasti sudah tidak asing dengan nama Rumah Limas. Karena rumah yang satu ini adalah ikon rumah adat Sumatera Selatan yang khas dengan ornamen kayunya yang unik. Walaupun belakangan ini rumah adat yang berupa rumah panggung ini semakin jarang terlihat.

Namun warga masih bisa melihat kekayaan budaya warisan leluhur ini. Yaitu di salah satu museum budaya yang diberi nama Museum Rumah Bari. Letaknya berada di Jalan Demang Lebar Daun no.51 Palembang.

Banyak juga yang menyebut Rumah Limas sebagai rumah panggung, hal itu terjadi karena bagian bawah rumah terdapat kolong terbuka. Biasanya digunakan untuk berbagai aktivitas harian, untuk berkumpul keluarga dan sesama tetangga, atau berbagai urusan sosial lainnya.

1. Dari Alam Untuk Rumah Adat Sumatera Selatan

Seperti halnya rumah adat di berbagai daerah lain, juga dibangun dengan menggunakan bahan-bahan terbaik dari alam. Rumah Limas dibangun dengan menggunakan dua macam kayu kokoh. Yaitu kayu Unglen atau kayu Besi dan juga kayu Tembesu.

Kayu itu digunakan untuk membangun atap, dinding dan juga lantai rumah. Sementara itu, tiang Rumah Limas menggunakan kayu Tembesu (dan semen untuk rumah Limas yang dibangun belakangan supaya lebih tahan air dan lebih kuat).

Kayu Ulin digunakan untuk membangun fondasi rumah, dimana jenis kayu yang satu ini jika semakin lama terendam di dalam air, maka semakin kuat pula ketahanannya.

Tak cuma kayu besi dan kayu tembesu, masyarakat Sumatera Selatan juga menggunakan kayu Mahoni untuk membangun rumah adat mereka.

BACA:

2. Desain Arsitektur Rumah Adat Sumatera Selatan

Umumnya desain arsitektur Rumah Limas Palembang ini adalah atap yang memiliki bentuk berupa limasan atau piramida yang terpenggal. Selain itu adanya bentuk yang bertingkat-tingkat atau kijing dan dindingnya yang terbuat dari kayu merawan yang dibentuk papan.

Adapun rumah adat Sumatera Selatan ini dibangun di atas cagak atau tiang-tiang. Bentuk rumah adat ini persegi panjang, dan selalu menghadapkan rumah dari timur ke barat dan memiliki makna filosofis yang akan dibahas lebih lanjut nanti.

rumah adat sumatera selatan

Adapun rumah ini dibangun dengan tiang-tiang kayu yang jumlahnya 32 buah atau bisa juga kelipatannya. Berbeda dengan rumah adat dengan kolong lain yang tak lebih dari satu atau dua meter saja. Rumah ini ketinggian lantai panggungnya saja sudah 3 meter dan untuk naik ke atasnya menggunakan dua buah tangga di kiri dan kanan rumah.

Untuk lantai dibuat bertingkat atau kekijing, disusun horizontal dan menurut besaran masing-masing ruangan. Sama dengan dindingnya, disusun menggunakan kayu yang berbentuk papan dengan cara penyusunan disesuaikan dengan papan lantai.

3. Nilai Filosofi Rumah Adat Sumatera Selatan

Adapun nilai filosofi rumah adat Sumatera Selatan salah satunya adalah teras rumah yang dikelilingi oleh pagar kayu dengan jeruji yang dinamai Tenggalung, makna filosofis yang terkandung di dalamnya adalah supaya anak perempuan tidak sembarangan keluar rumah.

Kemudian rumah yang menghadap barat dan timur, secara falsafah disebut arah matoari eedoop dan mato ari mati. Yakni matahari terbit yang difilosofikan sebagai awal kehidupan manusia dan matahari terbenam yang makna filosofinya adalah akhir kehidupan atau kematian.

Rumah ini menjadi pengingat siklus manusia dari hidup ke kematian. Masyarakat Palembang memiliki sikap yang kuat terhadap kehormatan lelaki dan perempuan secara personal.

Sementara itu secara sosial, yang menjadi citra kebudayaan mereka adalah menjunjung norma adat yang berlaku. Luasnya bentuk rumah menjadi gambaran kondisi sosial dan budaya masyarakat, yang notabene menjunjung kebersamaan dan gotong royong yang kuat.

Aturan tata sosial dalam masyarakat Palembang juga sangat rapi, hal itu terlihat dari ruang dan lantai yang berkijing-kijing. Dimana para tetamu yang datang saat ada kenduri pun sudah dibagi-bagi sesuai dengan status sosial mereka.

4. Pembagian Ruangan Dalam Rumah Adat Sumatera Selatan

Sementara itu untuk pembagian ruangan, di bangunan depan terdapat ruang kerja, Jogan dan Gegajah. Di sana ada amben atau balai yang lebih tinggi dibandingkan lantai dan ruangan.

Ini menjadi pusat bagi berbagai pertemuan penting, seperti hajatan, kenduri, upacara adat dan berbagai pertemuan sosial lainnya. Untuk pembatas ada lemari hias yang menunjukkan kekayaan si pemilik rumah itu sendiri.

Kemudian untuk bilik tidur atau Pangkeng Penganten di kiri dan kanannya terdapat dinding. Dan jika ingin masuk ke dalamnya harus melalui dampar atau kotak yang ada di pintu. Kotak itu fungsinya untuk menyimpan perlengkapan rumah tangga.

Setelah itu ada ruang kepala keluarga, kemudian pangkeng keputren (kamar anak perempuan), pangkeng keputran (kamar anak lelaki) ruangan keluarga dan barulah ruang anak menantu. Bagian belakang rumah adat Sumatera Selatan ini adalah dapur, ruang pelimpahan serta toilet.