8 Rumah Adat Sumatera Utara dan Keunikannya Masing-masing

RUMAH ADAT – Jika bicara mengenai Sumatera Utara, yang langsung terlintas di benak adalah suku Batak. Apakah anda berpikiran sama? Hal itu wajar, mengingat provinsi yang tercatat sebagai provinsi yang memiliki populasi terbanyak urutan 4 di Indonesia ini memiliki suku Batak sebagai suku aslinya. Tak heran jika mereka menjadi mayoritas dan ikon dari Sumatera Utara.

Suku Batak adalah suku bangsa terbesar kedua, setelah suku Jawa dan terbagi menjadi beberapa sub suku, misalnya saja Batak Angkola, Batak Toba, Batak Pakpak, Batak Simalungun dan juga Batak Mandailing. Setiap sub suku yang ada juga memiliki rumah adat masing-masing dan perbedaannya dapat dilihat melalui desainnya.

Lantas apa saja macam-macam rumah adat Sumatera Utara? Dan bagaimana ciri khas masing-masing rumah adat tersebut?

1. Rumah Adat Suku Pakpak

Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat adalah tempat dimana Suku Pakpak berada, dahulu merupakan satu kabupaten yang sama, namun Pakpak Bharat dimekarkan dan terciptalah dua kabupaten. Adapun rumah adat milik Suku Pakpak memiliki nama Jerro.

2. Rumah Adat Batak Toba

Rumah adat Sumatera Utara milik suku Batak Toba terlihat khas dengan bentuk panggungnya, ditopang dengan tiang pancang nan kokoh, dibuat menggunakan papan dan ijuk sebagai atapnya.

Kepala kerbau selalu menjadi ciri khas di bagian depannya, sementara itu di bagian belakang ada hiasan ekor kerbau yang dipasang. Jabu Bolon adalah nama rumah adat suku Batak Toba.

3. Rumah Adat Melayu

Suku Melayu ada di Kota Medan dan memiliki peranan besar sebagai perkembangan kota Medan menjadi kota terbesar nomor tiga di Nusantara. Adapun yang khas dari rumah adat Sumatera Utara khas suku Melayu Deli ini adalah warna hijau dan kuningnya, dinding papan dan atap ijuk.

4. Rumah Adat Karo

Di Tanah Karo, rumah adat dibagi menjadi 10 jenis yang disesuaikan dengan ukuran rumah serta berapa banyak anggota keluarganya. Si Waluh Jabu adalah salah satunya.

5. Rumah Adat Nias

Nias Kepulauan terkenal sebagai destinasi wisata bahari andalan Sumatera Utara, ditambah lagi kebudayaan megalitik Nias juga tertua di Indonesia. Rumah adat Nias memiliki nama Omo Sebua.

6. Rumah Adat Mandailing

Rumah adat suku Mandailing dinamai Bagas Godang, dimana Bagas berarti rumah dan Godang adalah banyak (bahasa Mandailing).

7. Rumah Adat Simalungun

Perbedaan rumah adat Sumatera Utara etnis Simalungun dengan rumah adat yang lainnya adalah bentuk atapnya yang seperti limas, memiliki nama Rumah Bolon.

8. Rumah Adat Angkola

Beda dengan yang lain, Angkola adalah etnis yang berdiri sendiri dan memiliki rumah adat yang bernama Bagas Godang. Yang jadi keunikannya adalah dominasi warna hitamnya.

BACA:

Filosofi Rumah Adat Sumatera Utara

rumah adat sumatera utara

Adapun filosofi dari rumah adat Sumatera Utara antara lain adalah sebagai berikut.

  • Kepala Kerbau

Kepala kerbau yang digantungkan di bagian depan rumah dan berupa tulang tengkoraknya saja ini adalah lambang kesejahteraan bagi para pemilik rumah. Semakin banyak tengkorak kerbau (lengkap dengan tanduknya) dipajang di depan rumah, maka semakin makmur dan sejahtera pula si pemilik rumah tersebut. Hal itu sama maknanya dengan bentuk atap yang melengkung, menandakan kesejahteraan hidup dari si pemilik rumah.

  • Atap Lambe-Lambe

Lambe-Lambe, begitulah orang Batak menyebutnya. Atap yang berbentuk segitiga dan biasanya dibuat dengan menggunakan sejumlah anyaman bambu dengan ijuk sebagai penutupnya. Ijuk ini sebagai personifikasi sifat pemilik rumah dan umumnya dicat dengan warna merah, putih atau warna hitam.

  • Ukiran Dinding Rumah Tradisional

Hal lain yang membuat rumah adat Sumatera Utara jadi terkenal adalah adanya ukiran dengan bentuk buah dada dan cicak. Tentu saja tak sembarangan, ada makna tersendiri kenapa keduanya menjadi ukiran tradisional yang khas.

Dekorasi rumah tradisional yang satu ini adalah odap-odap atau kesuburan (untuk buah dada), memberi arti bahwa masyarakat Batak adalah masyarakat yang subur. Juga menjadi lambang syukur bahwa mereka dianugerahi tanah gembur nan subur.

Sementara itu, cicak memiliki makna filosofis bahwa warga Batak mampu beradaptasi di manapun, tetap bisa hidup makmur walau di luar Sumatera Utara, tanah moyang mereka.

  • Bagian Rumah yang Terbagi Tiga

Ada tiga bagian rumah yang memiliki filosofi dan fungsi yang berbeda, atap menjadi simbol dari dunia atas atau Banua Ginjang. Bagian tengah yang menjadi tempat tinggal semua keluarga disebut dunia tengah atau Banua Tonga.

Sementara bagian bawah yang khususnya dijadikan kandang hewan ternak atau gudang penyimpanan memiliki nama Banua Toru yang kurang lebih artinya dunia makhluk halus.

Demikian adalah macam-macam rumah adat Sumatera Utara, beserta dengan filosofi dan keunikannya masing-masing. Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan anda mengenai kekayaan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.