Waktu Sholat Dhuha Terbaik Sesuai Hadits Shahih Nabi SAW

Sholat Dhuha – Seberapa pentingkah waktu terhadap sebuah amal? Tentu sangat penting. Termasuk waktu sholat dhuha, yang dalam pembagiannya setidaknya ada dua waktu yang akan diterangkan di bawah.

Waktu adalah sebuah tanda, berputarnya siang dan malam juga tanda, inilah di antara kekuasaan Allah. Allah meletakkan beberapa rahasianya pada waktu-waktu tertentu, ada yang dirahasiakan, ada pula yang dibuka. Di antara yang dibuka misalnya pada waktu 1/3 malam terakhir, waktu sahur/sholat tahajud, dll.

Maha suci Allah yang telah menetapkan setiap kewajiban dan anjuran pada waktu terbaiknya. Tak terkecuali, dalam melaksanakan sholat dhuha pun Allah telah mengatur waktu terbaiknya. Pada waktu inilah manusia dianjurkan untuk melaksanakan sholat dhuha.

Waktu Sholat Dhuha Terbaik

waktu sholat dhuha

Waktu Sholat Dhuha Mulai Jam Berapa ? Waktu sholat dhuha adalah dimulai dari naiknya matahari setinggi tombak hingga mendekati tergelincirnya matahari ke arah barat (mendekati waktu zawal).

Waktu sholat dhuha dibagi menjadi dua, yang kesemuanya bagus untuk melaksanakan sholat dhuha. Dua waktu ini adalah:

1. Awal Waktu

Awal waktu sholat dhuha ini kira-kira dimulai sekitar 15 menit setelah terbitnya matahari. Sebagaimana hadits riwayat ‘Amr bin ‘Abasah, Nabi SAW bersabda:

“Kerjakanlah shalat shubuh kemudian tinggalkanlah shalat hingga matahari terbit, sampai matahari naik. Ketika matahari terbit, ia terbit diantara dua tanduk setan, saat itu orang-orang kafir sedang bersujud.” (HR. Muslim no. 832).

2. Akhir Waktu yang Mendekati Waktu Zawal

Akhir waktu sholat dhuha ini kurang lebih sekitar 5 – 10 menit sebelum tergelincirnya matahari ke arah barat, yaitu mendekati waktu zawal.

Waktu yang baik untuk mengerjakan shalat dhuha adalah di waktu yang akhir, yaitu waktu yang dalam keadaan semakin panas.

Suatu ketika shahabat Zaid bin Arqom melihat sekelompok orang mengerjakan shalat dhuha, kemudian ia berkata: “Mungkin mereka tidak tahu jika selain waktu yang mereka kerjakan sekarang ini ada yang lebih utama. Rasulullah SAW bersabda: Waktu paling baik mengerjakan shalat awwabin (shalat dhuha) adalah ketika seekor anak unta merasakan panasnya terik matahari.”(HR. Muslim no. 748)

Imam Nawawi berkata: “Inilah waktu yang utama untuk mengerjakan sholat sunnah dhuha. Begitu juga dengan para ulama’ Syafi’iyah yang juga mengatakan demikian, meskipun boleh mengerjakannya setelah terbit matahari sampai waktu zawal”. (Syarh Shahih Muslim, 6: 28)

BACA: Doa Setelah Sholat Dhuha

Lebih jelasnya, dengarkan keterangan waktu sholat dhuha menurut Ust. Abdus Shomad berikut:

Waktu yang Diharamkan untuk Sholat

Berbicara mengenai waktu sholat, dalam hukum Islam ada 5 waktu yang diharamkan untuk sholat. Kelima waktu ini adalah:

1. Ketika Terbit Matahari

Waktu ini dimulai dari terbitnya matahari sampai naik sekitar satu tombak. Pada waktu ini sholat diharamkan. Ketika matahari sudah naik melebihi satu tombak, barulah boleh melakukan sholat sunnah mutlak atau sholat dhuha. Pada waktu ini jugalah waktu sholat dhuha dimulai.

2. Ketika Waktu Istiwa’ Sampai Tergelincirnya Matahari

Yang dimaksud dengan waktu istiwa’ adalah waktu pada saat matahari berada tepat di atas kepala. Pada waktu ini juga diharamkan melakukan sholat. Waktu istiwa’ ini tidak berlangsung lama, bahkan sangat singkat sampai tergelincirnya matahari.

Dan keharaman waktu sholat ini tidak berlaku untuk hari Jum’at. Jadi, sholat yang dilakukan pada hari Jum’at dan kebetulan pada waktu istiwa’ hukumnya tetap sah dan diperbolehkan.

3. Ketika Matahari Berwarna Kekuning-kuningan Sampai Tenggelam

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ، أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: «حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ

Artinya: “Ada tiga waktu di mana Rasulullah SAW melarang kita shalat dan mengubur jenezah di dalamnya: ketika matahari terbit sampai meninggi, ketika unta berdiri di tengah hari yang sangat panas sekali (waktu tengah hari) sampai matahri condong, dan ketika matahari condong menuju terbenam hingga terbenam.”

4. Setelah Shalat Subuh Sampai Terbit Matahari

Setelah seseorang melakukan sholat subuh, maka ia dilarang mengerjakan sholat sunnah sampai matahari naik lebih dari satu tombak.

Oleh karenanya, untuk kasus Qodho sholat pada waktu ini (Qodho Sholat yang dilakukan pada waktu sholat subuh dan ashar), maka Qodho Sholatnya dilakukan sebelum mengerjakan Sholat Subuh dan Sholat Ashar itu sendiri.

5. Setelah Shalat Ashar Sampai Tenggelamnya Matahari

Sebagaimana diharamkan sholat setelah melakukan sholat subuh sampai terbit matahari, diharamkan pula mengerjakan sholat setelah shalat ashar sampai tenggelamnya matahari. Ketentuannya adalah sama dengan waktu subuh dalam pengecualian shalat qodho’ (Sholat di luae waktu yang semestinya).

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ، وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ العَصْرِ حَتَّى تَغِيبَ الشَّمْسُ

Artinya: “Tak ada shalat setelah shalat subuh sampai matahari meninggi dan tak ada shalat setelah shalat ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Imam Bukhari).

Pengecualian

Sholat yang diharamkan pada kelima waktu di atas adalah sholat sunnah yang tidak memiliki sebab dalam pengerjaannya. Sedangkan shalat yang memiliki sebab tetap diperbolehkan.

Shalat sunnah yang tidak memiliki sebab contohnya adalah sholat tahiyyatul masjid, dll. Sedangkan sholat sunnah yang memiliki sebab contohnya adalah sholat gerhana, sholat jenazah, dll.

Pengecualian keharaman 5 waktu shalat ini juga berlaku untuk tanah suci Makkah. Sebab, di tanah suci Makkah seseorang diperbolehkan mengerjakan sholat pada waktu kapanpun ia mau tanpa ada pengecualian.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ

Artinya: “Jangan kalian larang seseorang berthawaf dan shalat di rumah ini (ka’bah) kapanpun ia mau baik siang malam maupun siang.” (HR. An-Nasai)

Loading...

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: